19 Juli 2009

Tradisi Bersyukur Masyarakat Cigugur (1)

Masyarakat Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jabar masih kuat memegang tradisi karuhun (leluhur). Masyarakat agraris di kaki gunung Ciremai ini terbilang unik. Bentuk tradisi yang kerap digelar sebagai rasa syukur atas anugerah Yang Maha Kuasa itu antara lain Seren Taun. Upacara yang digelar tiap 22 Rayagung Tahun Saka ini sebagai wujud terima kasih kepada Sang Pencipta yang telah memberikan hasil panen, serta kehidupan yang harmonis.

Di lingkungan masyarakat adat Jawa Barat, ritual seren taun amat dikenal. Sebab dalam masyarakat agraris di tatar Pasundan, upacara semacam ini lazim dilakukan. Khusus di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, upacara seren taun mengambil titi mangsa (waktu) setiap tanggal 22 Rayagung. Penentuan tanggal ini bukan dilakukan secara sembarangan. Sebab ia mengandung makna yang sangat dalam.

Seperti diterangkan Antropolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad) yang juga putra daerah Cigugur, Ira Indra Wardhana, S.Sos, makna 22 itu sebagai simbol dari unsur biologis yang ada didalam diri manusia. Selain itu, angka 22 pun mengandung makna sebagai sifat-sifat kemurahan Tuhan. Dan juga sebagai simbol hukum adikodrati manusia dan hukum Tuhan. Semisal adanya laki-laki dan perempuan, siang dan malam, atau susah dan senang.

“Dan manusia tidak bisa lepas dari hukum adikodrati tersebut di dalam kehidupannya,” ungkap Ira. Kemudian mengambil bulan Rayagung, menurut Ira, itu bermakna sebagai ungkapan merayakan keagungan Tuhan. Sehingga upacara ini lebih menekankan kepada rasa syukur sebagai manusia atas berkah yang telah Tuhan berikan. “Ritual ini pada jaman orde baru pernah mengalami pelarangan karena dianggap sebagai upacara yang dilakukan oleh sekelompok orang-orang tertentu, yang menganut ajaran Karuhun Urang,” bebernya.

Upacara ini, papar Ira, hampir selama 12 tahun pernah dilarang untuk diselenggarakan. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan politik di Indonesia, sejak tahun 1999, seren taun diadakan kembali. Keunikan upacara ini bukan hanya dihadiri oleh warga Cigugur dan Kuningan saja, melainkan juga dihadiri dan diikuti oleh berbagai suku bangsa yang ada di tanah air, termasuk dari negeri dan oleh berbagai agama dan aliran kepercayaan.

Seren Taun

Rabu (2/2) lalu, ribuan masyarakat tumplek di sekitar Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, di Jalan Raya Cigugur. Itulah puncak Ritual Seren Taun digelar, setelah 5 hari 5 malam dilakukan. Upacara dimulai pagi hari dengan memperdengarkan Gamelan Renteng yang dimainkan nayaga. Suara kecapi suling turut mewarnai. Diawali dengan Tarian Buyung yang dimainkan oleh 12 penari wanita dengan membawa buyung di atas kepala dan kendi di ketiak. Tarian diiringi suara kecapi suling itu dimainkan lemah gemulai mengitari tugu depan Paseban Tri Panca Tunggal.

Tari Buyung ini menggambarkan sekelompok wanita desa yang tengah mengambil air sebagai lambang kesuburan bagian dari salah satu zat hidup. Tarian yang diselingi dengan gerakan melenggang di atas kendi melambangkan sangat bergantungnya manusia pada air.

Usai Tari Buyung, menyusul gelar Angklung Kanekes dan Dogdog Lonjor Baduy yang dimainkan delapan orang Baduy Kanekes. Mereka mengenakan ikat kepala biru, baju kampret hitam, kain sarung berwarna biru. Irama musik terdengar monoton. Konon, pada saat itu para karuhun turun dan ikut menari bersama para penari. Selanjutnya, puluhan kaum pria keluar dari empat penjuru angin membawa alat musik angklung.

Angklung Buncis, nama permainan itu. Alat musik dimainkan secara kolosal memenuhi pelataran Paseban Tri Panca Tunggal. Kehadiran permainan Angklung Buncis diikuti permainan gamelan renteng mengiringi prosesi Ngajayak yang diawali lulugu terdiri dari anak gadis pembawa nampan berisikan ikatan padi dan umbi-umbian. Sementara kaum pemudanya membawa perangkat musik, kaum ibu menyuhun nampan berisi ikatan padi diikuti kaum bapak dengan rengkongnya memikul ikatan padi.

Menurut pinisepuh masyarakat desa Cigugur, Pangeran Djatikusumah, prosesi Seren taun diawali dengan upacara ngajayak atau menjemput padi. Kebiasaan menjemput padi omo dilaksanakan empat hari sebelum upacara puncak berlangsung. "Ngajayak yang dilakukan pada tanggal 18 Rayagung, bermakna delapan welas dalam bahasa Sunda. Makna tersebut bila dikonotasikan memiliki arti menyambut cinta kasih atas kemurahan Tuhan," ungkap Pangeran Djatikusumah.

Kaum muda dengan ikatan padi untuk benih menggambarkan sebagai generasi penerus yang taat akan budaya leluhurnya. Sementara kaum ibu dengan menyuhun nampan berisikan ikatan pagi melambangkan ketulusan kaum wanita dalam memelihara turunan serta membina rumah tangga menemani suami. Sedangkan kaum bapak memikul ikatan padi dengan rengkong merupakan perlambang tanggung jawab sebagai suami dalam membina dan menjadi tulang punggung rumah tangga.

Iring-iringan benih padi ini merupakan prosesi yang dilakukan untuk musim tanam tahun depan. Sementara padi yang akan ditumbuk, di simpan ke lumbung. Pada saat inilah para tamu yang berasal dari beragam etnis seperti warga Dayak Indramayu, Aceh Gayo, Warga Pati, Baduy Kanekes, dan lainnya turut dalam rombongan. Tak ketinggalan tamu-tamu dari berbagai negara yang juga turut hadir. (Bersambung)


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP