19 Juli 2009

Seputar Bangunan Gedung Sate Bandung

Daya tarik Gedung Sate terletak pada keindahan arsitekturnya yang bergaya Italia jaman Renaissance. Sebagai bangunan tua, gedung pusat pemerintahan provinsi Jawa Barat ini masih menyimpan segudang misteri yang belum terpecahkan. Misalnya soal lorong bawah tanah yang menghubungkan beberapa tempat di kota Bandung.

Penjajahan Belanda ternyata juga meninggalkan sisi positif. Antara lain peninggalan-peninggalannya berupa bangunan kuno dengan arsitektur bernilai tinggi. Sebagaimana umumnya bangunan tua, selalu saja menyimpan cerita-cerita unik. Di kota Bandung sendiri, hingga kini masih bisa disaksikan adanya bangunan-bangunan tua yang bertebaran di pusat kota. Termasuknya Gedung Sate yang berada di kawasan Bandung Utara.

Pada awal 1916, Bandung pernah dipilih oleh Pemerintah Belanda sebagai ibukota negeri jajahannya di Nusantara. Kawasan yang dipilih adalah Bandung Utara yang terkenal berhawa sejuk. Selain itu, kawasan ini juga memiliki pemandangan alam yang indah. Konon, iklan kota Bandung ketika itu senyaman negara Perancis Selatan di musim panas. Pendeknya, pemerintah Belanda ingin menyulap kawasan itu menjadi pusat perkantoran Nederlandsch Oost Indie. Rencana jangka sedang itu pun digodok.

Lahan untuk pusat perkantoran ibukota Nederlandsch Oost Indie yang disediakan oleh pihak Gemeente (Kotapraja) Bandung mencapai 27 Ha. Lahan itu berbentuk persegi panjang yang membentang dari Selatan ke Utara. Pembangunan dimulai dari tanah untuk bangunan pusat pemerintahan atau Gouvernements Bedrijven (GB) yang kini disebut Gedung Sate, bersumbu lurus ke tengah-tengah Gunung Tangkubanparahu.

Sekitar tahun 1920-an, rencana pembangunan perkantoran itu dikerjakan. Tapi sayang, upaya itu gagal dihantam resesi ekonomi dunia yang juga menghantam negeri Belanda pada 1930-an. Untunglah ketika itu beberapa gedung untuk kantor pemerintahan sudah rampung, termasuk Gedung Sate, yang kini menjadi kantor pemerintahan propinsi Jawa Barat.

Oleh masyarakat ketika itu, Gedung Sate juga disebut Gedong Hebe, singkatan dari huruf "GB" (Gouvernements Bedrijven). Dalam perkembangannya, masyarakat lebih suka menyebutnya Gedung Sate. Di sebut demikian karena di puncak menara gedung tersebut terdapat tusuk sate dengan 6 buah ornamen berbentuk jambu air.

Kabarnya, ornamen itu melambangkan modal awal pembangunan pusat perkantoran itu sebesar 6 juta gulden. Namun menurut sebuah majalah Economische Geographie yang terbit tahun 1919, pihak Gemeente hanya menyediakan dana 5 juta gulden. Mungkin yang sejuta gulden lagi dalam bentuk lahan.

Untuk pembangunan sebuah kota yang sudah tentu memerlukan anggaran tidak kecil. Dari demikian banyak rencana yang harus dibangun, hanya sebagian kecil yang dapat diselesaikan, antara lain gedung sate. Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sate dilaksanakan 27 Juli 1920 oleh Nona Johanna Catherina Coops, putri sulung Walikota Bandung B Coops, dan Nona Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia.

Bangunan gedung ini dirancang oleh arsitek Ir J Berger dari Landsgevouwdienst, atau semacam dinas pembangunan gedung-gedung pemerintah dari Negeri Belanda. Ketika itu Belanda sudah mempersiapkan bangunan resmi yang dapat menimbulkan kesan anggun, megah dan monumental.

Proses pembangunan Gedung Sate memakan waktu 4 tahun, dengan mempekerjakan lebih dari 2.000 pekerja. Diantaranya terdapat 150 orang pemahat (ahli bongpay-pengukir batu nisan) dan pengukir kayu orang-orang Cina dari Konghu atau Kanton. Tahun 1924, pembangunan gedung pun rampung secara keseluruhan.

Lorong Rahasia

Gedung Sate memang diakui elok karena arsitekturnya bergaya Italia dimasa Renaissance, terutama untuk bangunan sayap. Sedangkan menara bertingkat di tengah bangunan, mirip atap "meru" dari Bali atau pagoda dari Thailand. Bahan-bahan pembangunannya sebagian menggunakan kepingan batu berukuran besar, yang digali dari Gunung Arcamanik dan Gunung Manglayang di Bandung Timur. Melalui kereta gantung (cable car) batu-batu besar itu diangkut menuruni perbukitan hingga ke lokasi pembangunan.

Meski telah rampung secara keseluruhan, namun masih ada yang mengganjal dihati masyarakat. Antara lain beredarnya kabar soal lorong bawah tanah Gedung Sate. Syahdan, lorong itu berhubungan dengan Gedung Pakuan, yang kini menjadi rumah dinas gubernur Jawa Barat. Lorong itu sengaja di bangun Belanda sebagai jalan rahasia. Bila hal itu benar adanya, tentu merupakan kejutan besar. Sebab masyarakat Bandung khususnya, bisa berjalan-jalan di bawah tanah kota Bandung yang sehari-harinya dipadati lalu lintas. Karena tu pula, tidak heran bila soal ini terus berkembang hingga kini. Bahkan beberapa waktu lalu, pihak Gedung Sate sempat kebanjiran pertanyaan dari masyarakat soal adanya lorong bawah tanah itu.

Misalnya ada salah satu ruang di lantai dasar Gedung Sate yang tidak pernah dibuka. Konon ruang itu merupakan pintu utama menghubungkan lorong bawah tanah ke Gedung Pakuan. Tapi pihak Gedung Sate menepis kabar itu. Untuk menghilangkan keraguan masyarakat, Gubernur Nuriana mempersilakan masyarakat luas untuk berkunjung ke gedung itu kapan saja. Namun tetap saja, misteri lorong bawah tanah itu selalu menjadi tanda-tanya yang tidak terjawab.

Beberapa staf bagian hubungan masyarakat Gedung Sate juga menggelengkan kepala. Mereka tidak tahu menahu soal keberadaan lorong bawah tanah yang kontroversial itu. Menurut mereka, sudah tidak ada lagi saksi sejarah yang tahu persis lika-liku Gedung Sate. Bahkan sejak dialihkan dari kantor Pekerjaan Umum menjadi kantor Pemda Jabar, dokumen-dokumen penting soal Gedung Sate juga turut di pindah. "Coba saja tanyakan ke kantor Pekerjaan Umum," tutur salah seorang pegawai Humas.

Di masa perang kemerdekaan, Gedung Sate juga mencatat sejarah berdarah. Peristiwa itu seolah menjadi tumbal untuk keanggunan Gedung Sate. Tepatnya 3 Desember 1945, sebanyak 7 pemuda tewas bersimbah darah. Dada mereka tertembus pelor ketika mempertahankan gedung itu yang hendak di rebut pasukan Gurkha. Kepahlawanan mereka dikenang hingga kini. Untuk itu, dihalaman Gedung Sate terdapat sebuah batu besar sebagai prasasti heroik. Dan tanggal 3 Desember, dinyatakan sebagai hari Bhakti Pekerjaaan Umum nasional, karena ketika peristiwa berdarah itu terjadi, gedung masih digunakan sebagai kantor Jawatan Pekerjaan Umum.***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP