25 Juli 2009

Pura Gunung Salak

Gunung Salak memang sulit untuk didaki. Itu tidak lepas dari sisi-sisi mistis yang menyelimutinya. Dan, ada sisi lain yang membuat gunung ini semakin disegani. Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang paling masyhur, pernah berada di gunung itu. Buktinya, sebuah tempat ibadah berdiri setelah sang prabu menurunkan wangsitnya.

Bukan salah pilih bila bangunan suci umat Hindu ini didirikan di salah satu lereng Gunung Salak. Tapi, ada sejumlah pertimbangan yang melatarbelakanginya. Dan untuk sampai pada keputusan pilihan itu, ada sejumlah prosesi istimewa yang telah dilakukan. Sehingga berdirilah Pura Gunung Salak, yang kini ramai dikunjungi umat Hindu. “Tempat ini memang memiliki kandungan energi kosmis yang cukup. Bebas dari polusi, tenang dan hening. Syarat-syarat baku untuk berkomunikasi dengan Sang Hyang Widi Wasa sudah terpenuhi ditempat ini,” tutur I Nyoman Randeg (62), pemangku Pura Gunung Salak.

Benda Gaib

Tentu saja, imbuh Nyoman, bukan hanya itu penyebabnya. Ada hal lain yang lebih penting. Ya, apalagi kalau bukan menyangkut seorang leluhur Hindu yang bernama Prabu Siliwangi. Sosok berwibawa itulah yang juga menambah berat kandungan energi kosmis Gunung Salak. Bagi petinggi Hindu yang terlibat pembangunan Pura Gunung Salak, tempat tersebut sangat harmonis. Cocok dengan hitungan sekala dan niskala. Seperti titik simpul sirkulasi enerji kosmik.

Tengok saja bagaimana proses pemilihan lereng gunung salak ini menjadi sebuah pura. Kejadiannya tahun 1984. Bermula dari sebuah perasaan mistik seorang tokoh Hindu di Bali bernama Anggawijaya. Ketika itu Angga tengah sembahyang di lereng Gunung Salak ini. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang lain. Aneh, ada daya tarik yang khas begitu terasa. Sulit dikatakan dengan lisan. Dan itu menyebabkan Angga yakin bila di situ cocok menjadi tempat ibadah.

Sejak itu, Angga berangkat ke Bali dan Jakarta. Ia temui sejumlah rekan, baik pemangku (pelayan pura), Pedanda, dan mereka yang bisa merasakan adanya energi di suatu tempat. Akhirnya terkumpul 20 orang tokoh, termasuk Dewa Brata, Gubernur Bali yang waktu itu masih menjabat Sekwilda Bali. Setelah disepakati, mereka berangkat ke tempat Angga dahulu melakukan sembahyang.

Dan benar saja, baru selangkah memasuki lokasi, mereka sudah merasakan adanya energi aneh itu. Mereka pun segera memulai sembahyang dengan posisi setengah lingkaran. Pada tahap inilah mereka baru merasakan energi yang kuat itu benar-benar ada. Setelah itu mereka istirahat. Pukul 00.00, mereka kembali bersembahyang. Mereka berdoa kepada Sang Hyang Widi untuk diberikan tanda yagn nyata bila di tempat ini bisa dibangun pura.

Tak berapa lama, keheningan yang tengah berlangsugn itu buyar seketika. Sebab tiba-tiba terdengar suara denting besi yang beradu dengan batu. Komang Agung, salah seorang peserta sembahyang, menemukan sebuah keris berukuran sekitar 7 Cm, disisi kiri tempatnya bersila. Menyusul kemudian ditemukan lagi tga buah permata yang besarnya mencapai satu ruas ibu jari orang dewasa. Warnanya ada yang hijau, merah dan kecoklat-coklatan. Benda-benda gaib itu semua dikubur di tempat berdirinya pura.

Wangsit Siliwangi

Belakangan, panitia pelaksana penyucian leluhur umat Hindu sebumi Parahyangan itu baru tahu bilalokasi mereka semadi tempo hari bukan tempat sembarangan. Masyarakat di sana, maupun tokoh-tokoh spiritual di Bogor juga mengungkap bila tempat itu merupakan petilasan Prabu Siliwangi. Menurut keterangan, di tempat itulah sang prabu dan bala tentaranya muksa. Petilasannya berbentuk batu-batuan hingga kini masih ada di lokasi itu.

Setelah rangkaian proses yang panjang, disepakatilah di tempat itu untuk didirikan pura. Pemangku pura Gunung Salak, I Nyoman Randeg sendiri, selama melayani umat yang sembahyang, kerap mendapat peristiwa-peristiwa aneh. Saat-saat ia melakukan semadi, seringkali mungcul sosok seorang raja yang diyakini sebagai Prabu Siliwangi. Sosok itu selalu memberikan berbagai petuah-petuah gaibnya. Nyoman yakin bila ia telah mendapatkan wangsit dari Prabu Siliwangi.

“Wangsit itu sering saya terima saat kapan pun. Bahkan pernah melalui perantara salah seorang umat yang sembahyang di sini,” kata Nyoman. Pensiunan TNI AD ini menjelaskan, wangsit itu isinya rata-rata tentang nasihat kebaikan hidup dan kehidupan. Bahkan tidak jarang berisi peringatan untuk waspada akan terjadinya suatu peristiwa. Seperti ramalan tentang masa depan bangsa. Sayang, Nyoman enggan menceritakan isi wangsit Prabu Siliwangi soal masa depan bangsa itu. Ia hanya berpesan agar bangsa ini bersatu dan bahu membahu memerangi kemiskinan dan kejahatan. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP