17 Juli 2009

Persemayaman Lima Karuhun Sunda

Gua Hawu terletak di kompleks makam Sangadipati Kertamanah. Kawasan ini kerap pula disebut pasarean Cikabuyutan Pasir Jambu. Letaknya di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Di tempat ini lima karuhun (leluhur) tatar Sunda disemayamkan. Pada salah satu bagian di lokasi ini, terdapat Gua Hawu yang sering dijadikan barometer sukses tidaknya masa depan seseorang. Bagaimana ceritanya ?

Menurut salah satu sumber, Prabu Siliwangi, Raja Padjadjaran yang termasyhur itu memiliki empat putra. Masing-masing Raden Lara Santang, Raden Walang Sungsang, Raden Gantangan dan Raden Prabu Kunten Buyeng. Putra yang terakhir tadi menurunkan generasi berikutnya antara lain Layang Pakuan, Lapang Jiwa dan Eyang Dalem Sangadipati Kertamanah. Begitu seterusnya tokoh-tokoh ini beranak pinak dan beregenerasi.

Eyang Dalem Sangadipati Kertamanah, menurut silsilahnya, disebut-sebut sebagai Waliyullah Cikabuyutan. Tokoh inilah yang mendapat tugas untuk meng-Islamkan kawasan Bandung Kidul. Markas syiar Islamnya terletak di daerah Pasir Jambu, yang secara turun-temurun disebut sebagai Kabuyutan Pasir Jambu. Tak hanya persoalan spiritual an sich yang diajarkan Eyang Dalem, namun juga masalah hidup dan kehidupan.

Eyang Dalem memang bukan tokoh sembarang. Ilmu agamanya tinggi. Kesaktiannya pilih tanding. Orang-orang pada masa itu, mensejajarkan ketokohannya dengan waliyullah (kekasih Allah), seperti halnya walisanga yang terkenal itu. Seperti dituturkan kuncen kompleks makam Sangadipati Kertamanah, Utar Muchtar (76 tahun), bahwa pada jamannya, Eyang Dalem Sangadipati Kertamanah adalah tempat bertanya.

Beliau bukan hanya pejuang syiar Islam di wilayah Bandung Kidul, tapi juga guru dalam bidang bercocok tanam. Bukti soal itu masih bisa dilihat hingga sekarang. Rata-rata warga di kawasan Bandung Kidul, masih banyak yang menggantungkan kehidupannya pada hasil pertanian. “Karena itulah masyarakat amat menaruh hormat kepada beliau. Bahkan sampai meninggal dunia, kawasan makamnya dikeramatkan,” tutur Utar kepada penulis.

Utar sendiri mengaku tak tahu persis kapan makam keramat ini mulai diurus. Yang pasti, juru kunci (kuncen) makam ini telah berregenerasi 10 kali secara turun-temurun. Kuncen pertama adalah Mamah Haji Hanafiah, lalu diturunkan kepada Uyut Umar, Ma Hasyim, Uyut Una, Aki Marhayi, Mang Aun, MAng Basuni, Bapak Wikari, Almarhum Ma Onah, dan terakhir Utar Muchtar.

Prediksi Masa Depan

Salah seorang tokoh spiritual tatar Sunda, Ki Mohammad, ungkap pendapat, bahwa tokoh-tokoh tatar Sunda pada masa lampau kebanyakan punya pemikiran yang jauh ke masa depan. Dalam kaitan ini, Eyang Dalem Sangadipati Kertamanah adalah seorang yang cerdas. Selain tentunya senang dengan ketenangan. Kesenyapan. Sebab di sana ia dengan nyaman mengakaji diri. “Terbukti beliau memilih markas syiar Islamnya di sini (cikabuyutan Pasir Jambu -pen), kawasan yang sulit ditempuh siapapun,” ujarnya.

Memang, secara geografis, Cikabuyutan ini letaknya sangat sulit dijangkau tanpa lewat jalan memotong. Artinya, tanpa melewati jalan desa, jangan harap bisa mencapai cikabuyutan dengan mudah. Lokasi cikabuyutan diapit dua sungai besar, yang letaknya di dasar lembah dengan ketinggian mencapai 30 meter. Nama sungai itu adalah Cisonari dan sungai Ciwidey, yang alirannya berasal dari Lereng Gunung Sepuh atau Gunung Patuha.

Oleh karena letaknya persis di ujung desa, tak heran bila suasana tenang amat terasa tatkala berada di kompleks cikabuyutan. Dari arah lembah, suara air terjun berdebur nyaring. Seakan mengajak manusia berkomunikasi dengannya. Sekaligus, mengisyaratkan agar manusia mau ‘berbicara’ dengan alam. Sebab pada kenyataannya, kini alam banyak dirusak tangan-tangan manusia.

Melihat suasana yang tenang dan sangat alami itulah, maka tempat ini acapkali diburu para peziarah dan orang-orang yang gemar bertapa. Kuncen Utar mencatat pengunjung bukan hanya datang dari tanah Jawa, bahkan dari Kalimantan pun ada yang menginjakkan kaki di tempat ini. Tentu saja dengan beragam tujuan.

Memasuki kawasan cikabuyutan, pengunjung akan disambut pasarean Eyang Geleng Pangancingan. Nama tokoh ini sering diikuti sebutan Jaga Lawang, yang artinya penjaga pintu. Pasarean Eyang Geleng memang kurang mendapat perhatian para peziarah. Namun di lokasi inilah, kata spiritualis Ki Mohammad, banyak peziarah yang kebetulan sedang bermalam, sering mendapat benda-benda keramat seperti batu-batuan, keris atau kujang.

Nah, sekitar 200 meter dari tempat itu, terdapat lagi pasarean Eyang Jaga Satru. Kemudian melalui jalan menurun dan berkelok, peziarah akan berhadapan dengan pasarean Eyang Kumis Bereum. Di lokasi inilah terdapat Gua Hawu, yang konon dapat mengukur atau tepatnya memprediksi kesuksesan hidup seseorang di masa depan. Bila seseorang bisa melewati mulut gua dan keluar dibagian lain dengan lancar, itu artinya kehidupan akan dilalui dengan mulus.
Uniknya, ungkap Ki Mohammad, meski lubang keluar gua itu kecil, siapapun bisa moncor dengan lancar. Bahkan mereka yang bertubuh gendut sekalipun. Itu menandakan kehidupannya akan dijalani dengan mulus. Tak banyak kendala. Tapi, ini yang mengherankan. Ternyata orang bertubuh kurus bisa saja kesulitan keluar dari mulut gua. Itu mensinyalir bahwa orang ini akan mendapat hambatan dalam mengarungi hidup. Untuk itu, segeralah melakukan tobat atau interospeksi. Tujuannya untuk memperbaiki diri. “Inilah kebesaran Allah SWT. Melalui fenomena alam, manusia harus bisa interospeksi diri,” tandasnya.

Selain itu, setelah berdoa dimulut Gua Hawu, sukses tidaknya masa depan seseorang juga bisa diprediksi. Caranya, sebelum melantunkan doa, ukurlah panjang sebilah rotan sama persis dengan ukuran panjang dari lengan kiri ke kanan. Bila setelah berdoa panjang rotan bertambah, konon, di kemudian hari bakal makmur. Rejekinya akan bertambah. Bila panjang rotan itu berkurang, maka rejekinya akan berkurang. “Oleh sebab itu segeralah mendekatkan diri kepada Allah dan bekerja lebih keras lagi,” beber Ki Mohammad. Wallahu’alam bissawab. ***

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP