25 Juli 2009

Pantang Adat Warga Kampung Naga

Bagi masyarakat Kampung Naga, menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para karuhun (leluhur). Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Bila hal itu dilanggar, diyakini bakal timbul malapetaka.

Masyarakat Kampung Naga masih memeluk keyakinan animisme. Misalnya percaya adanya mahluk halus semisal jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai terutama bagian sungai yang dalam atau leuwi. Mereka juga percaya ada ririwa, yaitu mahluk halus yang senang menganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari. Mereka pun yakin ada yang disebut kunti anak, yaitu mahluk halus yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, yang suka mengganggu wanita melahirkan.

Tempat-tempat yang dihuni mahluk halus, disebut masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna, Bumi agueng dan mesjid merupakan tempat yang dipandang suci bagi masyarakat Kampung Naga.

Pantang Adat

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga, masih dilaksanakan dengan patuh. Terutama pantang adat yang berkenaan dengan aktivitas kehidupan. Pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah, pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

Misalnya soal bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, dengan bahan dari bambu dan kayu. Atap dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Lantai rumah terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah pun diharuskan menghadap ke utara atau selatan dengan memanjang ke arah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedong.

Isi rumah juga tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Selain itu, rumah tidak boleh mempunyai pintu dari dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk ke dalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus.

Selain itu, pada hari selasa, rabu, dan sabtu warga Naga dilarang membicarakan adat-istiadat dan asal-usul mereka. Mereka sangat menghormati Eyang Sembah Singaparna yang merupakan cikal bakal masyarakat Kampung Naga. Sebuah daerah yang bernama Singaparna di Tasikmalaya, mereka sebut Galunggung, karena kata Singaparna berdekatan dengan Singaparna nama leluhur masyarakat Kampung Naga.

Masyarakat Kampung Naga juga mempercayai bahwa ruang atau tempat-tempat yang memiliki batas-batas tertentu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan. Misalnya batas sungai, batas pekarangan rumah dengan jalan, tempat antara pesawahan dengan selokan, lereng bukit, tempat antara perkampungan dengan hutan, dan sebagainya. Daerah yang saling berbatasanitu diyakini dihuni mahluk-mahluk halus dan dianggap angker atau sanget. Karenanya, di tempat itu masyarakat suka menyimpan sasajen. EKO RISANTO


Baca pula :
Mengunjungi Kampung Naga Tasikmalaya
Ritual Adat Warga Kampung Naga
Menguak Mitologi Kampung Naga


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP