25 Juli 2009

Napak Tilas Histori Kampung Dukuh

Kampung Dukuh konon didirikan oleh Syeikh Abdul Djalil. Seorang ulama dari Sumedang di era kekuasaan Bupati Rangga Gempol, abad 16-17 Masehi. Karena kecewa akan janji Bupati untuk menerapkan syariat Islam di tatar Sumedang yang tak pernah terlaksana, akhirnya dia mengasingkan diri di Cikelet, Garut Selatan. Di situlah Syeikh Abdul Djalil membuka Kampung Dukuh berikut adat istiadatnya. Makamnya terletak di sisi timur Kampung Dukuh.

Kala itu, Syeikh Abdul Djalil, penduduk Nusa Jawa, menimba ilmu di tanah suci Mekkah. Setelah ilmunya cukup, gurunya meminta agar Syeikh Abdul Djalil pulang ke kampung halamannya. Namun Syaikh keberatan, dengan alasan ingin menghabiskan sisa hidupnya di Makkah. Guru Syeikh maklum dnegna itikad baik muridnya. Namun ia tetap berharap supaya muridnya itu kembali ke tanah air.

Untuk itu, beliau memberinya segenggam tanah dan sekendi air suci dari Mekkah. Syeikh Abdul Djalil merupakan sosok yang taat dan patuh terhadap gurunya. Dan pada akhirnya, Syeikh pun menerima semua permintaan gurunya. Selanjutnya, sang guru berpesan supaya tanah tersebut ditaburkan di tempat yang dianggap cocok dengan nuraninya, sementara air di dalam kendi di tanam di tanah tersebut. Syaikh Abdul Djalil menyetujui, lalu ia kembali ke Mataram.

Menjadi Penghulu

Pada suatu waktu, di daerah Sumedang yang saat itu diperintah oleh penguasa bernama Rangga Gempol sedang membutuhkan seorang penghulu. Bahkan Rangga Gempol sampai mengirim utusan hingga ke Mataram. Oleh penguasa Mataram, ditunjuklah Syaikh Abdul jalil untuk menjadi penghulu di daerah Sumedang. Syeikh Abdul Djalil bersedia menjadi penghulu di Sumedang, namun dengan satu permintaan. Yakni agar Bupati dan rakyatnya bersatu padu dan saling bahu membahu dan tidak boleh melanggar aturan hukum dan sara (Alquran dan Alhadist).

Syarat itu pun disanggupi oleh Rangga Gempol. Setelah Syeikh Abdul Djalil menjabat sebagai penghulu selama 12 atahun, ia berkeinginan untuk melaksanakan ibadah haji dan Rangga Gempol mengijinkan. Ketika Syeikh Abdul Djalil sedang berada di tanah suci Mekkah, penguasa Sumedang kedatangan utusan dari Banten dnegna maksud meminta agar penguasa Sumedang tidak mengabdi ke Mataram melainkan mengabdi ke Banten.

Mendengar keinginan dua utusan dari Banten itu, Rangga Gempol tidak langsung memutus. Namun ia minta waktu untuk mempertimbangkan. Selanjutnya, kedua utusan itu pun kembali ke Banten. Namun ketika berada di daerah Parakan Muncang, keduanya dibunuh atas perintah penguasa Sumedang, dengan alasan jika dibiarkan hidup dan tiba di Banten, dikhawatirkan akan terjadi hruu-hara di Sumedang.

Setelah sekian lama di Mekkah, Syeikh Abdul Djalil kembali ke tatar Sumedang. Namun, kejadian kedatangan dan pembunuhan atas utusan dari Banten ditutup-tutupi agar tidak diketahui Syeikh Abdul Djalil. Namun informasi tersebut akhirnya diketahui juga lewat seorang tangna kanannya yang bernama Sutawijaya. Mendengar laporan itu, Syeikh Abdul Djalil marah dan sat itu juga ia mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai penghulu. Selanjutnya ia pergi dari Sumedang dan mengembara ke daerah Batuwangi Singajaya Garut dan menetap selama kurang lebih 3,5 tahun.

Selama itu, Syeikh Abdul Djalil terus berdoa agar ditunjukkan sebuah tempat yang cocok untuk dijadikan tempat tinggalnya. Kemudian Syeikh Abdul Djalil mengembara lagi ke daerah Tonjong Cisanggiri, Pameungpeuk. Di tempat itu, Syeikh Abdul Djalil menetap kurang lebih 1,5 tahun. Tepat pada hari Jumat Kliwon, 12 Mulud tahun Alif, Syeikh Abdul Djalil melihat cahaya terang yagnmenyorot dari dalam tanah kira-kira sebesar pohon kawung (aren).

Melihat kejadian itu, Syeikh bergegas menghampiri asal cahaya. Ternyata di temapt itu terdapa tsebuahr umah yang ditempati sepasang suami istri yang sedang berladang. Belakangan diketahui bahwa peladang bernama Aki Chandra dan Nini Chandra yang berasal dari cidamar Cianjur. Kono tempat itulah yang kemudian menjadi Kampung Adat Dukuh.

Ketika Syeikh Abdul Djalil datang, keduanya langsung meneyrahkan tempat tersebut. Selanjutya, Nini dan Aki Chandra kembali ke daerah asalnya di Cidamar, Cianjur. Penduduk Cidamar sangat menyayangkan sikap Aki dan Nini Chandra yang kembali ke kampung halaman. Seharusnya, Aki dan Nini Chandra tetap tinggal di tempat itu dan menimba ilmu dari Syeikh Abdul Djalil. Rupanya, saran penduduk Cidamar itu bisa diterima. Mereka akhirnya memeutuskan untuk kembali ke temapt itu. Namun di tengah perjalanan, Aki dan Nini Chandra meninggal dunia dan dimakamkan di Palawa Chandra Pamulang. ***

Baca pula :
Keterunan Dukuh Pantang Jadi PNS
Keunikan Kampung Adat Dukuh


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP