25 Juli 2009

Mitologi Kampung Naga

Orang banyak bertanya-tanya, mengapa kampung kecil di sebuah lembah Desa Neglasari, Selawu, Tasikmalaya itu disebut Kampung Naga? Tak ada keterangan resmi asal-usul nama itu. Para pinisepuh, baik kuncen maupun punduh kampung juga tak tahu persis mengapa kampung kecil diberinama mirip ular raksasa.

Memang ada buku tua berbahasa Sunda kuna tahun 1927. Buku yang belum banyak dipelajari itu dibawa oleh pemerintah Belanda dan dibawa ke Batavia. Namun sampai kini tak dikembalikan. Ada juga barang-barang peninggalan sejarah yang mestinya bisa digunakan untuk mengkaji lebih dalam nilai-nilai metafisika dan sejarah mereka. Namun, semuanya lenyap setelah tahun 1956 pasukan DI/TII yang dipimpin Kartosuwiryo membumihanguskan kampung itu. Satu-satunya benda yang tertinggal adalah sebilah keris dari kuningan. Ternyata, itupun hanya duplikat.

Bukan hanya soal nama, tentang asal-usul mereka pun masih juga terjadi sialng pendapat. Ada yang mengatakan nenek moyang mereka adalah seorang prajurit Mataram yang enggan pulang ke negaranya karena kalah perang. Yakni, ketika pasukan Mataram gagal menaklukkan kompeni (Belanda) di Batavia tahun 1916. Kemudian, membangun perkampungan yang kini terkenal dengan sebutan kampung Naga itu. Pendapat ini didasarkan kenyataan bahwa sekitar 40 km, tepatnya di daerah Cangkuang ada kampung yang semua penduduknya keturunan prajurit Mataram.

Kerajaan Galuh Pasundan

Namun, pendapat ini mendapat penolakan. Terutama dari masyarakat Kampung Naga sendiri. Menurut mereka, penduduk asli Kampung Naga merupakan keturunan asli suku Sunda. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan langsung dari Kerajaan Galuh Pasundan. Sebelum membangun pekampungan di lembah subur Desa Neglasari mereka tinggal di lereng-lereng Gunung Galunggung.

Ketika itu, mereka masih primitif dan tinggal di atas pohon-pohon besar untuk menghindari serangan binatang-binatang buas seperti singa dan sebagainya. Karena itu, seperti yang terlihat sekarang, rumah mereka selalu terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung. Mesti tidak tinggi seperti rumah panggung umumnya, namun lantai mereka selalu terbuat dari papan dan berada sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Di bawah lantai rumah itu, dipelihara berbagai jenis binatang ternak. Utamanya ayam.

Sedang untuk ternak-ternak besar seperti kerbau dan lembu dipelihara di tempat terpisah. Yakni di depan perkampungan sebelah kiri dekat dengan dua kolam massa yang sejak dulu tak pernah berubah. Mana yang benar? Pengakuan warga Kampung Nagalah yang rupanya layak dipercaya. Itu jika dikaitkan dengan kenyataan sejarah bahwa hubungan antara masyarakat Tasikmalaya dengan Galunggung begitu erat. Bahkan hubungan itu sudah terjalin sejak berabad-abad yang lampau.

Terbukti dari referensi yang ditemukan tim sejarah yang diberi tugas untuk menentukan hari jadi Kabupaten Tasikmalaya. Kesimpulannya, sangat sulit mencari ketidakharmonisan budaya antara masyarakat Tasikmalaya dengan gunung yang terkenal dengan letusannya pada April 1982 itu. Tentu, hubungan tersebut menjadi makin kental jika pembahasaan jika dilakukan dengan kajian metafisis.

Menurut Risman (44), Ketua RT Kampung Naga, penduduk di kampungnya memang asli orang Sunda. Nenek moyang mereka yang kini dimakamkan di bukit sebelah Barat kampung bernama Sembah Dalem Singaparna. Dinamakan Singaparna karena ia dapat menaklukkan singa yang sedang mengamuk dengan kesaktiannya. Namun Singaparna lebih dikenal sebagai seorang ulama sakti.

Ia memiliki 6 anak laki-laki yang kesemuanya diwarisi ilmu linuwih. Pertama, RD Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti. Tokoh yang ini dikenal dengan ilmu kebal yang diwarisi dari Sembah Dalem Singaparna. Setelah meninggal, dia dimakamkan di daerah Teraju, Kabupaten Tasikmalaya. Kemudian, Ratul Incung Kudratullah. Ia dimakamkan di Karangmanunggal, Kabupaten Tasikmalaya. Lebih dikenal dengan Eyang Mudik Batara Karang karena mewarisi kebedasaan (kekuatan fisik yang luar biasa).

Ketiga, Pangeran Mangku Bawang. Ia mewarisi kekayaan duniawi. Dimakamkan di Mataram (Yogyakarta). Berikutnya adalah, Sunan Gunung Kalijaga. Dimakamkan di daerah Cirebon. Ia mengembangkan agama Islam di wilayah ini dengan pendekatan masyarakat agraris kerana ia mewarisi ilmu pertanian yang luar biasa.

Kelima, adalah Sunan Gunung Komara, Ia diwarisi kepandaian dan kejujuran. Kemudian, Sunan Gunung Komara menyebarkan agama Islam di Banten dan meninggal di sana. Makamnya kini berada di daerah Banten. Yang terakhir adalah, Pangeran Kudratullah. Ia mewarisi ilmu agama yang demikian mendalam. Selanjutnya, menyebarkan agama di daerah Garut, Jawa Barat hingga dimakamkan di sana.

Baca pula :
Mengunjungi Kampung Naga Tasikmalaya
Ritual Adat Warga Kampung Naga
Pantang Adat Warga Kampung Naga


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP