19 Juli 2009

Misteri Pendopo Kota Bandung (3-habis)

Pendapa kota Bandung adalah bangunan eksklusif di tengah hiruk pikuk pusat kota. Eksklusif karena suasananya lengang, dan terkesan tertutup layaknya bangunan tak bertuan. Sehari-harinya, yang terlihat hanya para penjaga yang nongkrong di gardu dekat gerbang masuk. Konon, ketertutupan itu berkait dengan banyaknya kejadian-kejadian aneh di dalamnya. Pendapa kota Bandung memang penuh dengan misteri.

Jejak sejarah pendapa kota Bandung di mulai awal abad 17 masehi. Ketika itu, kawasan Bandung yang kerap disebut Ukur, masih menjadi bagian kekuasaan kerajaan Sumedang Larang. Kerajaan ini memiliki luas meliputi Karawang, Pamanukan, Ciasem, Sumedang, Sukapura, Limbangan dan Kabupaten Bandung. Seperti diceritakan Babad Bandung, ibukota Ukur atau Bandung ini letaknya di Krapyak. Yakni kota yang dibangun oleh Wira Angun-Angun dengan mengerahkan rakyat Ukur yang dibantu penduduk dari Timanganten. Belakangan, nama Krapyak kemudian diubah mejadi Citeureup.

Setelah Tumengung Wira Angun-angun wafat, naiklah putranya yang bergelar Dalem Tumenggung Nyili sebagai ganti. Tak lama kemudian ia pun disuksesi oleh menantu Wira Angun-Angun yang bernama Raden Demang Ardisuta yang bergelar Raden Demang Anggadireja. Setelah wafat, ia diberi gelar Dalem Gordah, karena ia dimakamkan di kampong Gordah. Sejak itulah suksesi kepemimpinan Kabupaten Bandung tak jauh anak dan keturunan-keturunannya.

Ibukota dipindah

Tahun 1799, kekuasaan kompeni beralih ketangan Pemerintah Belanda. Kemudian diangkatlah Raden Indrareja, yang bergelar Adipati Wiranatakusumah II, sebagai Bupati Bandung. Ia memerintah hingga tahun 1829 dan berkedudukan di Citeureup. Nah, pada tanggal 25 Bloeimaad (Mei) 1811, sejarah besar terjadi. Atas perintah Gubernur Jenderal Mr Herman Willem Deandels, sang Bupati mendapat tugas untuk memindahkan ibukota kabupaten Bandung dari Krapyak atau Citeureup. Sementara tempat barunya menjadi tugas Adipati Wiranatakusumah II untuk mencarinya.

Setelah melalui perjalanan panjang menelusuri Sungai Cikapundung, akhirnya sang Adipati menemukan tempat itu berdasarkan pepatah Sunda. Yakni, “garuda ngupluk tanah hade, bahe ngaler-ngetan, deukeut pangguyangan badak putih” (letak lahannya seperti garuda mengepakkan sayapnya, tanahnya subur, landai kea rah timur laut dan berdekatan dengan sumber air). Tempat yang ditemukan itulah kini menjadi lokasi pendapa kota Bandung, sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Bandung yang baru. Dan letaknya memang tak jauh dari sumber mata air Sungai Cikapundung dan dua buah sumber mata air bernama Sumur Bandung.

Menurut pini sepuh Bandung, Bupati RAA Wiranatakusumah II yang bernama asli Raden Indrareja dan kerap disebut Dalem Kaum, adalah tokoh yang memiliki banyak kelebihan dibanding bupati Bandung lainnya. Selain dikenal sakti, Bupati Wiranatakusumah juga memiliki ilmu-ilmu yang tak dipunya kebanyakan orang. Semisal keberhasilannya menemukan lokasi bakal ibukota baru, konon tak lepas dari ketajaman mata batin dan kesaktiannya. Kala itu, iteuk (tongkat) sang bupati menjadi penentu letak ibukota baru.

Saat Bupati Wiranatakusumah II menancapkan tongkatnya di tanah, ia lalu menunjuk sebuah tempat tak jauh dari tempatnya berdiri sebagai bakal lokasi baru. Keajaiban pun terjadi. Ketika sang Bupati mencabut kembali tongkatnya, bekas tanah yang tertancap tongkat itu tiba-tiba mengeluarkan air. Air itulah yang kemudian dipergunakan untuk keperluan selama berkemah. Bahkan pada malam harinya, tepat di sekitar lokasi tenda-tenda itu terlihat sinar terang yang jatuh dari langit. Sang bupati mendapat firasat dan merasakan tempat itu sebagai lokasi yang pas menjadi ibukota Kabupaten Bandung yang baru.

Sejak saat itu dia mengumumkan bila lokasi disisi Sungai Cikapundung itu sebagai ibukota Kabupaten Bandung yang baru. Lokasi tenda-tenda perkemahan rombongan dijadikan pendopo. Sementara sumber mata air dari tancapan tongkatnya menjadi sebuah sumur yang airnya tak pernah kering. Sang Bupati kemudian wafat tahun 1829, dan dimakamkan di belakang masjid Kaum Bandung, sekarang mesjid Agung Bandung atau Masjid Raya Jawa Barat. Setelah wafat, rakyat kerap menyebutnya Dalem Kaum.

Penuh misteri

Lama kelamaan, lokasi baru itu menjadi pusat kota yang ramai. Bangunan pendapa yang semula menjadi tempat tinggal para bupati Bandung, mulai disekat-sekat menjadi ruangan kantor. Konon, sejak itulah peristiwa-peristiwa aneh mulai terjadi. Banyak yang mengatakan bila penghuni gaib pendapa mulai gelisah. Antara lain dengan ramainya lingkungan pendapa dari hiruk pikuk kesibukan manusia. Maklum sejak diubah fungsinya menjadi kantor pemerintahan, sehari-harinya kawasan itu menjadi ramai.

Menurut cerita-cerita yang berkembang, hal itu berefek negative. Misalnya membuat suasana lingkungan kerja menjadi tak nyaman. Banyak pegawai pemerintah yang resah. Keributan dan pekelahian sesama pegawai pun kerap terjadi. Bahkan banyak keluarga para pegawai itu yang mengalami perceraian. Kisah-kisah seram seputar pendapa Bandung pun beredar dari mulut kemulut hingga ibukota Kabupaten Bandung dipindah ke soreang, dan pendapa menjadi rumah dinas Walikota Bandung.

Contohnya soal senjata pusaka yang tertanam di bawah pohon beringin yang berada di depan pendapa. Jenisnya semacam tombak. Hanya saja ukurannya tak lebih dari 40 Cm. Ujung tombak berwarna kuning dan gagangnya berwarna coklat. Bandi Sobandi (54) pimpinan Pengelola Urusan Rumah Dinas Pemkot Bandung, yang juga membawahi Pendapa Bandung, mengakui hal-hal aneh yang kerap terjadi di sekitar pendapa. Misalnya soal lonceng yang berada di depan pendapa dekat pohon beringin yang kerap berbunyi sendiri.
Menurutnya, lonceng itu tak boleh sembarangan dipukul. Sebab bila itu dilakukan, alamat pelakunya bisa celaka. “Jangan coba-cobalah, kalau tak ingin terjadi sesuatu,” tandasnya. Lonceng itu sendiri hingga kini masih terpajang di sana. Selain itu, katanya, ada satu keanehan pendapa kota Bandung. Bila tengah berada di lingkungan pendapa, tatkala suara azan berkumandang, maka hentikanlah segala aktivitas yang tengah dikerjakan. Sebab bila tidak menghentikan pekerjaannya, selalu ada saja yang celaka.

Hal ini pernah dialami seorang pensiunan yang tengah bekerja memasang kayu dan genteng di pendapa. Ia sudah diperingatkan untuk berhenti kerja ketika mendengar suara azan salat jumat dari masjid agung yang hanya terletak 100 meter dari pendapa. Namun karena tanggung, ia tak mengubris. Akibatnya, ia terjatuh dari atap pendapa. Tulang pahanya patah dan harus dirawat beberapa waktu di RS. Pada saat yang sama, seorang yang tengah mengecat tiang pendapat sebelah barat, tiba-tiba juga terjatuh.

Wanita cantik

Misteri kejadian aneh pendapa kota Bandung hingga kini terus berlangsung. Bang Uta, seseorang yang pernah mengamati sisi mistis pendapa kota Bandung, menceritakan soal pohon beringin yang tumbuh di depan pendapa. Katanya, pohon beringin itu ada penghuninya. Ia adalah seorang wanita tua, yang kerap muncul sengaja tiba-tiba. Beberapa orang pernah melihat wanita tua itu tengah berada di sekitar pohon beringin. Tapi, kata Bang Uta, tidak sembarang orang bisa melihatnya.

Kisah ini pun merebak di kalangan orang-orang yang pernah mengalami. Banyak yang bilang, bila tidur di bagian selatan pendapa, pasti akan mendapat mimpi bertemu dengan seorang wanita muda yang cantik jelita. Selanjutnya, apa yang kerap terjadi antara sepasang suami dan istri, berlaku dengan wanita muda itu. Sehingga tidak heran bila banyak kaum pria penasaran. Mereka ingin mencoba tidur di kamar bagian selatan pendapa dengan harapan bias bertemu dan berkencan dengan wanita cantik dalam tidurnya. (habis)


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP