19 Juli 2009

Misteri Pendopo Kota Bandung (2)

Pendopo Kota Bandung sarat dengan cerita mistik. Bangunan bercorak arsitektur jaman Belanda ini menyatu dengan kisah penentuan ibukota Kabupaten Bandung pada tahun 1811. Ketika itu Gubernur Jenderal Deandels memerintahkan Bupati Bandung Adipati Wiranatakusumah II, mencari ibukota baru. Setelah melayari Sungai Cikapundung, lokasi baru ditemukan. Kejadian-kejadian aneh mewarnai proses penemuan itu.

Pada waktu yang hampir bersamaan dengan proses pencarian lokasi bakal ibukota baru, proyek jalan terpanjang Anyer - Panarukan tengah digarap. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr Herman Willem Deandels, adalah pemrakarsa proyek raksasa itu. Kabarnya, selama proyek itu berjalan, banyak nyawa kaum pribumi melayang. Mereka meninggal karena berbagai sebab. Yang paling dominan penyebabnya adalah karena kelelahan dan serangan penyakit. Kala itu, proyek berlangsung di bawah tekanan kaum penjajah. Rakyat yang dipekerjakanpun direkrut secara paksa.

Mereka diperintah, tanpa diberi imbalan memadai. Keselamatan dan kesehatan kerja jauh dari harapan. Akibatnya, banyak rakyat yang menderita sakit dan tewas. Selain itu, kekejaman pengawas proyek yang tiada lain adalah tentara kompeni, tak pernah kenal kompromi. Para pekerja yang terlihat malas, disiksa dan dianiaya. Entah berapa nyawa menjadi tumbal proyek prestisius milik Daendels itu. Yang pasti, para korban itu mati penasaran. Konon, arwah mereka masih gentayangan dibeberapa titik proyek yang tingkat kesulitannya tinggi. Seperti daerah yang melintasi gunung batu, semacam Cadas Pangeran di Sumedang.

Nah, rupanya, kisah kerja paksa proyek Jalan Anyer - Panarukan itu berkait pula dengan pendopo kota Bandung atau rumah dinasnya Walikota Bandung. Banyak cerita-cerita yang beredar di dalam masyarakat yang berhubungan dengan itu. Menurut cerita, arwah rakyat yang mati penasaran itu juga kerap mendatangi pendopo kota Bandung, baik ketika baru dibangun. Bahkan hingga saat ini, beberapa penjaga pendopo, seringkali menjumpai banyak orang berlalu lalang di sana.

Anehnya, kejadian itu berlangsung malam hari. Inilah yang terasa ganjil. Bayangkan saja. Banyak orang berlalu lalang di pendopo yang dijaga pamong praja, di tengah malam. Ini tentu membuat penasaran beberapa penjaga. Namun ketika diperhatikan dari dekat, mereka terkejut bukan main. Ternyata orang-orang yang berlalu lalang itu tidak menginjak tanah. Itu artinya mereka adalah serombongan mahluk halus. Menyaksikan itu, para penjaga pendopo hanya terbengong dan tak bisa bergerak dari tempatnya.

Pohon beringin

Peristiwa-peristiwa aneh yang menyertai penemuan lokasi bakal ibukota Bandung yang baru, menjadi cerita yang terus berkembang dari mulut ke mulut. Misalnya soal sinar terang yang jatuh dari langit dan terciptanya sumur Bandung oleh ujung tongkat Raden Wiranatakusumah II. Karena itulah saat pendopo dibangun, terasa sebagai suatu yang istimewa. Belum lagi soal sumur Bandung yang namanya melegenda. Kabarnya, sumur tersebut kini dihuni Dewi Kentringmanik, yang kerap disebut sebagai penghuni alam gaib kota Bandung. Sumur Bandung yang terletak di bawah Gedung PT PLN Distribusi Jabar, diberi hiasan penutup. Airnya kerap diambil orang-orang sebagai kenangan, dan juga sarana pengobatan, bagi yang meyakini.

Usai pembangunan pendopo rampung, sebatang pohon beringin ditanam pula di pekarangannya. Ketika itu, pohon beringin seakan menjadi ciri kota. Bisa diibaratkan, tidak sah sebuah kota tanpa kehadiran pohon beringin. Karena itulah, Bupati Wiranatakusumah II pun menanam pula pohon beringin di halaman pendopo, yang juga rumah dinas bupati kala itu. Selain itu, dua pohon beringin lain ditanam pula di alun-alun, tak jauh dari pendopo. Sebuah pohon beringin diberinama Juliana Boom, sebagai peringatan Ratu Belanda itu naik tahta.

Dalam perkembangannya, pohon yang ditanam langsung oleh bupati di halaman pendopo, seakan memiliki tuah. Sehingga tidak heran bila pohon itu kerap dijadikan ajang ngalap berkah. Orang-orang yang gemar memburu kesaktian, acap kali mencuri-curi kesempatan bisa bertapa di bawah pohon itu. Seseorang yang pernah bertapa di sana mengatakan bila di pohon beringin itu tertanam senjata pusaka berbentuk kujang. Warnanya kuning keemasan. Malah pertapa ini mendapat bisikan gaib yang bunyinya antara lain, “bila kota Bandung ingin aman, maka harus dipimpin oleh orang Sumedang”. Wallahualam.

Kabarnya, pohon beringin itu kini menjadi tempat bersemayamnya mahluk-mahluk halus. Seorang narasumber, kepada posmo mengatakan bila penghuni pohon beringin itu sereing terlihat mengenakan pakaian kebesaran kerajaan. Selain itu, tokoh gaib berpakaian raja ini sering muncul didampingi para pengawal. Para pengawal itu mengenakan pakaian ala prajurit kerajaan, tanpa penutup dada. Mereka setia mengikuti kemanapun tuannya pergi. “Mereka sering jalan-jalan di sekitar pendopo, lalu istirahat di sebelah barat,” tuturnya.

Narasumber posmo bertutur, kondisi lingkungan di sekitar pendopo yang kini semakin ramai, ternyata telah mengusik ketenangan mereka. Sehingga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka harus dilakukan sesuatu. Antara lain menjaga sekitar pendopo agar senantiasa terlihat lengang dan nyaman. Karena itulah jangan heran bila areal pendopo yang persis berada di tengah kota Bandung yang ramai, kini dibiarkan lengang dan terbuka. Sisi-sisi batas pendopo dibangun pagar tembok yang tinggi dan kokoh. Wajar saja bila kemudian muncul kesan eksklusif terhadap bangunan ini. Bisa jadi, itu karena pertimbangan menjaga ketenangan areal pendopo. Seperti yang diinginkan para penghuni gaibnya. bersambung


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP