25 Juli 2009

Misteri Batu Celek Pasar Kramat

Hanya seonggok batu andesit warna hitam pekat. Bentuknya unik. Warga Cirebon menyebutnya batu Celek. Di sebelahnya sebuah makam tua yang tiada seorang pun tahu pusara siapa. Uniknya, batu Celek ini banyak diziarahi orang dari berbagai tempat. Di situ mereka minta agar dapat keturunan dan penglaris usaha. Uniknya lagi, ada pula wanita panggilan datang minta penglaris.

Tak disangka bila di depan pasar Kramat, Jl. Siliwangi Kota Cirebon, terdapat fenomena unik. Ada seonggok batu yang diperkirakan ada sejak zaman purba. Bila ditilik sepintas, orang bakal menyangka ia adalah sebentuk besi tua. Namun sesungguhnya, ia batu andesit yang amat keras. Orang-orang di sana menyebutnya batu Celek.

Di sebelah batu ini membujur sebuah makam tak bernama dan tak seorang pun tahu siapa pemiliknya. Para pedagang yang sudah puluhan tahun berniaga di sana mengatakan bila makam itu sudah ada dirinya kanak-kanak. Bahkan kabarnya sudah ada jauh sebelum kakek mereka lahir. Bila diistilahkan, makam tua dan batu Celek itu sudah “satu paket” dari asalnya.

Keberadaan kedua “produk” masa silam ini terasa nyaman berada di pinggir kali dan dinaungi pohon beringin yang rindang. Hanya saja, keadaan ini amat kontras dengan bangunan Bank Jabar Banten yang berdiri megah di sampingnya. Oleh karena itu, sejak 2003, batu dan makam ini dikeramik oleh manajemen Bank Jabar Banten. Sisi-sisinya pun dipagari dengan besi. Entah apa yang melatarbelakanginya. Kabarnya, manajemen bank tersebut menghormati benda itu sebagai tinggalan masa silam.

Mirip Kemaluan

Dan, inilah yang disebut-sebut unik itu. Ternyata bentuk batu ini mirip kemaluan pria. Konon, karena bentuknya yang unik itulah maka orang-orang banyak menziarahi batu dan makam ini. Parno (45), pengemudi becak yang biasa mangkal di depan pasar Kramat, mengatakan hal itu. Katanya, batu itu memang sering di ziarahi orang. Mereka datang dari berbagai tempat, baik dari Cirebon sendiri, Majalengka, Kuningan, bahkan dari Bandung.

Menurut Parno, para peziarah itu datang tidak mengenal waktu. Baik pagi, siang atau malam. “Tapi kebanyakan mereka datang ketika malam Jumat. Persisnya tengah malam,” kata Parno kepada posmo. Mereka diketahui datang dari jauh karena mobil yang digunakan berplat nomor luar kota, ujar Parno.

Susiati (40), yang membuka warung di mulut Gang Cempaka, atau persis di sebelah lokasi Batu Celek, juga mengatakan hal itu. Para peziarah yang datang biasanya malam hari. Tapi ada juga yang datang siang atau sore. “Mungkin kalau siang hari mereka malu. Sebab di sini kan banyak orang. Terutama nasabah Bank Jabar. Makanya mereka kebanyakan datang malam-malam,” katanya.

Jeng Susi – demikian wanita ini kerap disapa, menceritakan bila para peziarah itu kebanyakan pasangan suami istri yang belum mendapat keturunan. Itu terlihat dari para peziarah yang datang selalu berpasangan alias suami istri. Nah, uniknya, karena tak ada kuncen atau juru kunci makam, maka mereka berdoa di depan makam menurut cara mereka sendiri. Setelah itu mereka melemparkan atau menyawer sejumlah uang ke arah batu Celek.

Susi sendiri sering melihat ada uang ribuan bercecer di sekitar batu Celek. Bahkan ada juga yang nilainya Rp 50 ribuan. Biasanya, esoknya uang-uang itu akan dipunguti para tukang becak atau anak-anak yang sedang bermain atau kebetulan melintas dekat batu Celek. “Mereka memang bebas memunguti uang-uang kalau kebetulan menemukannya. Uang tersebut dianggap sebagai rejeki tiban,” tutur Susi.

Cerita yang satu ini cukup mengelitik. Seperti diungkap Parno yang diiyakan beberapa rekan pengemudi becak lainnya, karena bentuknya yang mirip kemaluan pria itulah, maka batu Celek itu diziarahi mereka yang ingin dapat keturunan. Bahkan, Parno dan rekannya sesekali suka memergoki ada PSK (Pekerja Seks Komersil) yang berziarah di situ.

“Biasanya setelah selesai berdoa, lalu PSK itu duduk di atas batu Celek dan menggesek-gesekkan kemaluannya,” katanya sambil tertawa geli. Parno memperkirakan, dengan melakukan hal seperti itu, si PSK tadi berpikir “dagangannya” bisa laris manis dan banyak pelanggan. Hanya saja, baik Parno dan Susi, atau beberapa pengemudi becak di sana, mempertanyakan kelakuan para peziarah. “Sebab mereka sendiri mungkin tidak tahu siapa yang diziarahi di tempat itu,” ungkap Parno. ***



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP