19 Juli 2009

Mengunjungi Taman Purbakala Cipari Kuningan

Yang namanya Taman Purbakala mungkin hanya ada di daerah Cipari, Kuningan, Jawa Barat. Ia merupakan miniatur kehidupan jaman purba. Sekaligus tanda bila dimasa lampau, kawasan ini pernah dihuni manusia purba, yang tak lain nenek moyang negeri ini. Benda-benda yang terdapat di tempat ini adalah bukti peninggalan mereka.

Kabupaten Kuningan Jawa Barat memang kaya tapak-tapak masa silam. Menurut catatan para ahli purbakala, kawasan di kaki Gunung Ceremai ini, ternyata sudah di tempati oleh umat manusia sejak ribuan tahun silam. Terbukti di daerah ini banyak ditemukan berbagai benda purbakala. Semuanya terbuat dari batu. Para ahli menyimpulkan bila daerah Kuningan ini telah berkembang sejak tahun 2500 – 1500 SM.

Di daerah Cipari sendiri, para ahli telah melakukan penelitian dan penggalian. Di situ mereka menemukan gelang fragment batu setengah bulat dan kapak persegi. Benda-benda itu ditemukan di luar peti mati yang terbuat dari batu. Lima meter dari tempat itu, pada kedalaman 30 Cm, didapat lagi priuk, kendi, dan mangkok sayuran dari batu. "Herannya, tak satupun ditemukan unsur-unsur logam di wilayah ini," tutur Suryana, pengurus Taman Purbakala Cipari.

Tokoh kebudayaan asal Kuningan, Pangeran Djatikusumah, tahun 1974 juga pernah menemukan kapak persegi, kerewang-kerewang, dan gelang batu. Sebelumnya, tahun 1967, sebuah lembaga kebudayaan pimpinan Drs Uka Tjandrasasmita, juga menemukan kapak persegi dari sebuah peti mati batu. Dan masih di tempat ini, ditemukan lagi dolmen, menhir, tahta batu, dan punden berundak.

Akhirnya, para peneliti sepakat menyatakan bila wilayah Kuningan bagian barat, tepatnya daerah di kaki Gunung Ceremai, merupakan tempat bermukim (perkampungan) manusia yang sangat tua usianya. Itu artinya di daerah ini telah tumbuh sebuah kebudayaan purba yang benar-benar alamiah. "Bahkan ada yang mengatakan di sini berdiri semacam kerajaan kecil. Itu bisa dilihat dari sisa-sisa kehidupan bermasyarakat di masa lalu," kata Suryana lagi.

Bukan hanya itu, masyarakat 'asli' Kuningan ini juga diyakini sudah memiliki kemajuan di bidang rohani. Mereka telah mengenal tata cara pemujaan terhadap leluhur mereka sebelumnya. Hal itu terlihat dari adanya bangunan di atas bukit yang berbentuk punden berundak-undak. Di situlah tempat mereka memotong hewan untuk kurban. Ternyata mereka mempercayai hewan itu merupakan bekal mereka di alam kekal nanti.

Selain itu, mereka juga memuja arwah nenek moyang untuk meminta berkah kesuburan tanah, kemakmuran dan kesejahteraan. Ini menunjukkan, budaya rohani mereka sudah cukup tinggi. Karena itulah, seperti diungkap Pangeran Djatikusumah, untuk menggambarkan kehidupan sosial budaya nenek moyang itu di kaki gunung Ceremai itu, maka dibangunlah Taman Purbakala Cipari ini di atas lahan seluas 5000m2.

Meski berbentuk seperti taman, tapi formasinya betul-betul dibuat seasli mungkin. Bahkan benda-benda yang ada di dalamnya, semua murni hasil temuan kepurbakalaan. Seperti peti kubur batu, menhir, dan dolmen. "Jadi, taman ini benar-benar menggambarkan kehidupan nenek moyang masa lampau," tutur Djatikusumah.

Menhir, sarana pemujaan terhadap nenek moyang, terletak di bukit-bukit atau lokasi yang lebih tinggi dari tempat tinggal mereka. Di Taman Purbakala Cipari ini, tampak bukti-bukti bahwa kepercayaan terhadap karuhun (leluhur) sudah tumbuh pada masyarakat nenek moyang. Nenek moyang mempercayai adanya kehidupan setelah mati. Misalnya pada sebuah peti mati dari batu besar, di dalamnya berisi perkakas yang disebut bekal kuburan. ***

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP