25 Juli 2009

Mengenal Mama Luluk, Kuncen Kampung Dukuh

Nada bicaranya lugas dan tak ada kesan terpaksa. Asap rokok kretek dari mulutnya terus menerus mengepul bagaikan kereta api. Rokok agaknya menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap tarikan nafasnya. Dengan bahasa Sunda yang meledak-ledak, Mama Luluk menyampaikan wejangan-wejangan kepada warganya. Dan itulah ciri khasnya.

Mama Luluk bernama asli Lukman. Pria berusia 65 tahu ini menjabat Kuncen Kampung Dukuh mewakili generasi ke-14. Jabatan kuncen dalam adat istiadat kampung ini merupakan amanah turun temurun. Di pundak lelaki yang masih tampak muda inilah segala hal menyangkut Kampung Dukuh dibebankan. Mulai mengurus makam leluhur Syeikh Abdul Djalil hingga memimpin rapat-rapat warga, menjadi tugasnya.

Jabatan kuncen dalam ranah adat Kampung Dukuh berasal dari seseorang bernama Eyang Dukuh. Di ceritakan bahwa sebagai pendiri Kampung Dukuh, Syekh Abdul Djalil mempunyai pengawal setia bernama Eyang Hasan Husen. Hasan Husein ini tiada lain adalah putera kandung dari Syeikh Abdul Djalil. Nah, untuk tugas-tugas sehari-hari, Eyang Dukuh kemudian diberi tugas sebagai pelaksananya. Bahkan Syaikh Abdul Djalil telah memberi amanah untuk merawat dan menjaga makamnya bila ia dan keturunannya meninggal dunia kelak.

Eyang Dukuh ini juga mewarisi amanah untuk meneruskan nilai dan adat istiadat Kampung Dukuh. Dan setelah Syeikh Abdul Djalil wafat, Eyang Dukuh-lah yang secara otomatis kemudian menjadi Kuncen Kampung Dukuh. Istilah kuncen dalam masyarakat Kampung Dukuh merupakan pemimpin dan pemegang tradisi Kampung Adat Dukuh sebagai warisan dari ajaran Syeikh Abdul Djalil.

Adapun tugas kuncen antara lain melakukan Munjungan, yakni membawa makanan ke Bumi Alit (rumah peninggalan Aki dan Nini Chandra). Kemudian makanan tersebut dibacakan doa supaya mendapat berkah bagi pribadi kuncen maupun bagi peziarah dan para tamu. Dalam seminggu, pelaksanaan munjungan dilaksanakan pada hari Sabtu ba’da Dzuhur. Hari Minggu dilaksanakan pagi, Senin ba’da Dzuhur, Selasa dilaksanakan pagi, hari Kamis pada Sore, dan Jumat pada pagi hari.

Tugas kuncen lainnya adalah memimpin ziarah pada hari Sabtu, menjadi imam salat di masjid, serta memimpin acara ritual hari besar Kampung Dukuh yang jatuh setiap 14 Maulid. Selain itu, juga menurunkan ilmu kepada masyarakat kampung dan para tamu. Lalu menjaga dan merawat benda pusaka, memberi doa pada air suci untuk kepentingan tamu dan berdoa semalam penuh sampai menjelang subuh. Dan terakhir adalah memimpin musyawarah kampung.

Dalam keseharian, Mama Luluk menghuni rumah adat yang berukuran lebih besar dari rumah-rumah lainnya. Mengapa lebih besar? ”Sabab di dideu mah sok dipungsikeun kangge sagalana. Mimiti musawarah, narima tamu, nepi sagala hal. (Sebab di sini suka dipergunakan sebagai tempat musyawarah, menerima tamu dan semua urusan),” tutur Mama Luluk kepada penulis.

Dan sebagai kuncen, terang Mama Luluk, tugasnya terbilang tidak ringan. Selain tugas-tugas yang telah disebutkan di atas, tugas lainnya adalah menjaga keseimbangan alam dan menjadi pengawal norma-norma adat. Karena itulah dalam keseharian, Mama Luluk selalu mengenakan pakaian adat. ”Ieu mah tos janten tugas abdi, kedah dilaksanakeun sesuai parentah. (Ini sudah menjadi tugas saya dan harus dilaksanakan sesuai perintah),” ujarnya. ***

Baca pula :
Keunikan Kampung Adat Dukuh
Keterunan Dukuh Pantang Jadi PNS
Napak Tilas Histori Kampung Dukuh


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP