19 Juli 2009

Menengok Kekhasan Masyarakat Suku Dayak Indramayu

Orang Indramayu atau wong Dermayu tidak asing mendengar sebutan Suku Dayak Indramayu. Keunikan mereka adalah dari penampilannya yang tidak berbaju dan hanya bercelana pendek serta mengenakan bertopi ala petani. Komunitas eksklusif ini juga kerap disebut Dayak Losarang. Markasnya terletak di RT 13 RW 03, Desa Krimun, Kec. Losarang, atau 300 m dari jalur utama Pantura Indramayu.

Warga komunitas Suku Dayak Indramayu memang eksklusif. Namun dalam keseharian, mereka terkenal ramah dan suka menolong. Siapa pun yang datang ke pendopo –istilah warga Suku Dayak Indramayu menyebut markasnya, pasti disambut dengan tangan terbuka dan keramahan khas ala "Bumi Segandu", polos, lugas, jujur, murni dan apa adanya. Penampilannya aneh. Sehari-hari, baik hujan atau panas, mereka tak pernah memakai baju.

Yang menempel di tubuhnya hanya celana pendek sedengkul, warna hitam atau hitam padu putih. Rambutnya dibiarkan panjang dan jarang pula mandi. Namun herannya, mereka cukup kebal terhadap berbagai penyakit. Saat musim kemarau datang, mereka melakukan semadi atau tapa di bawah terik matahari. Ritual itu dilakukan sebagai penghormatan terhadap matahari. Selain itu, mereka juga vegetarian alias tak makan daging atau hewan hidup lain. Otomatis, mereka pun menjauhi membunuh binatang, bahkan terhadap seekor cacingpun.

Ki Takmad

Pemimpin mereka adalah Ki Takmad. Didalam komunitas Suku Dayak Indramayu, nama lengkap lelaki berusia 70 tahun ini adalah Paheran Takmad Diningrat Gusti Alam. Sepintas lalu, penampilan Ki Takmad dan para pengikutnya bisa aneh dan berkesan menakutkan. Namun ketika sudah terlibat kontak dengan mereka, maka kesan akrab akan didapat.

Spiritualitas Ki Takmad seperti sinkritisme Hindu, Budha, Jawa Kuno, Islam dan hasil kontempelasi pemikiran orisinilnya, mirip kaum Pagan (penyembah benda-benda). Komunitas ini menempatkan kaum perempuan pada posisi yang sangat terhormat, sekaligus sebagai sumber inspirasi. “Nyi Dewi Ratu", demikian sebutan personifikasi kekuatan untuk yang maha pemberi hidup atau sumber kehidupan. Bahkan pintu bangunan pendopo komunitas ini, berreliefkan Nyi Dewi Ratu Kembar.

Dalam sistem sosial dan budaya yang dibangun di lingkungan dayak "Bumi Segandu", posisi dan derajat wanita memang sangat ditinggikan. Karena itu, sekalipun Takmad disegani, dia akan takluk bila berhadapan dengan istrinya.Berkhianat atau berbohong pada istri (wanita) adalah sebuah dosa besar yang tak terampuni. Karena itu pula, bila ada konsep "tuhan" dalam komunitas "Bumi Segandu", manifestasinya ada pada sosok wanita yang disebutnya sebagai "Nyi Dewi Ratu".

Nyi Dewi Ratu itu menguasai sukma bumi atau hukum-hukum kebenaran yang dibahasakan dengan istilah "sejarah alam". Dia harus dipuja dan ditinggikan lewat "ngajirasa" dan "ngadirasa" (laku atau amal-amalan). Dalam keseharian, pemujaan terhadap Nyi Dewi Ratu dipraktekan dalam bentuk kesetiaan terhadap istri.

Ajarannya Takmad tampaknya banyak dipengaruhi konsep kejawen (Hindu-Jawa). Sebagaimana kita tahu, pada pemahaman masyarakat kejawen Pulau Jawa itu dikuasai oleh Dewi-dewi, itu pula kenapa semua penguasa alam di Jawa selalu disimbolkan dengan wanita seperti Nyi Roro Kidul (Penguasa Laut Kidul), Nyi Blorong (Penguasa Gunung Bromo), Dewi Sri (Dewi Padi) dan lain-lain.

Karena konsep itulah, pada Pemilu 1999 Takmad memobilisasi pengikutnya untuk mendukung PDIP. Selain itu, pada Pemilu 1999, ketika dirinya bermeditasi, memperoleh bisikan ghaib dari Nyi Dewi Ratu kalau "Bumi Segandu" harus memilih partai yang dipimpin perempuan. Namun pada Pemilu 2004, komunitas Suku Dayak Indramayu menyatakan untuk tidak ikut dalam pemilu. ***

0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP