25 Juli 2009

Menengok Bong Cina Cirebon

Di belakang Pasar Pagi, Kota Cirebon, ada sebidang tanah yang dihuni beberapa makam tua. Orang-orang Cirebon menyebutnya Bong Cina atau makam Cina. Letaknya persis di sisi sungai Sukalila, yang membelah kota Udang itu. Kerabat Keraton Kanoman menyebut itu makam tokoh bernama Aria Wiracula beserta keluarga dan pengikutnya. Uniknya, makam ini kerap diziarahi orang-orang ragam agama.

Masyarakat Cirebon pantas bangga karena di wilayahnya bertebaran peninggalan-peninggalan masa lalu. Sebut saja adanya Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan yang hingga kini masih berdiri megah. Belum lagi peninggalan lain berbentuk taman sari, dan makam-makam tua, termasuk Bong Cina di belakang Pasar Pagi. Sayangnya, yang terakhir ini kurang mendapat perhatian. Meski kerap diziarahi, namun kondisi makam terbengkalai, kurang terurus. Rumput liar tumbuh di sana sini.

Tokoh penting

Beberapa kerabat keraton Kanoman, menyebut tokoh yang dimakamkan di Bong Cina adalah Aria Wiracula beserta keluarga. Tentu saja, tak banyak yang tahu siapa sebenarnya Aria Wiracula, meski makamnya ramai diziarahi orang dari banyak tempat. Sebuah versi menyebut Aria Wiracula adalah orang Cina, yang datang dari daratan Cina. Nama aslinya Tan Gun We. Ia seorang saudagar biasa yang sedang berniaga dari Cina ke beberapa negara Asia dan kebetulan masuk perairan Nusantara.

Di tanah Jawa, Tan Gun We merapat di Pelabuhan Cirebon tahun 1676. Tan Gun We tak seorang diri, namun bersama dua rekan bisnis sesama Cina, yaitu Tan Cun Lay dan Sam To Liong. Kala itu, perkembangan Islam di Cirebon berkembang pesat, pasca syiar dari Sunan Gunung Jati. Ketiga Cina itupun tertarik kepada agama Islam dan menyatakann masuk Islam. Tan Gun We bahkan meninggalkan urusan dagang dan menyatakan berhenti berniaga. Ia kemdian menekuni Islam dan menyiarkannya.

Berbeda dengan Tan Gun We alias Aria Wiracula, kedua teman lainnya melanjutkan perjalanan untuk berniaga. Meski kemudian mereka pun tinggal di Pulau Jawa dan menetap di Semarang hingga akhir hayatnya. Selanjutnya, Tan Gun We kemudian mengabdi kepada Sultan Sepuh di Keraton Kasepuhan Cirebon. Tan Gun We ternyata banyak andil dalam pembangunan sosial-ekonomi di Cirebon. Keraton Kasepuhan pun amat beruntung memiliki tokoh semacam Tan Gun We.

Atas jasa-jasanya itu, Sultan Sepuh berkenan memberikan sebuah gelar Tumenggung di depan nama Aria Wira Cula. Namun karena kesederhanaannya, Tumenggung Aria Wiracula lebih dekat dengan rakyat, ketimbang keluarga Raja. Tak heran hingga akhir hayatnya, jasadnya tidak dimakamkan di kompleks raja-raja Cirebon, melainkan disebuah tanah kosong yang kala itu jauh dari keramaian. Namun keharuman namanya tetap dikenang orang. Buktinya, hingga saat ini, makamnya kerap diziarahi orang dari berbagai daerah.


Diziarahi orang

Uniknya, meski Tan Gun We dimakamkan di Bong Cina, namun yang berziarah berasal dari aneka agama. Samsul (40), warga Cirebon yang tinggal di dekat Bong Cina mengatakan, bila yang berziarah bukan hanya orang Cina. Mereka yang beragama Islam pun sering terlihat bersimpuh di depan pusaranya. Menurut Samsul yang dimakamkan di situ adalah Siang Kong, yakni sepasang suami istri keturunan Cina, yang punya hubungan dengan raja-raja di Cirebon.

Beberapa tahun silam, bila jatuh peringatan Maulid, puluhan bahkan ratusan ribu orang peziarah tumplek ke Cirebon. Mereka menyerbu Gunung Sembung, dimana Sunan Gunung Jati dan raja-raja Cirebon di makamkan. Tak ketinggalan pula, makam Siang Kiong ini pun ramai dikunjungi orang Islam. Begitu juga sebaliknya, setiap perayaan hari Imlek, pemeluk Konghucu yang banyak menziarahi Bong Cina. Uniknya, para peziarah ini datang dari berbagai tempat, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, bahkan Surabaya.

Seperti dituturkan Samsul, mereka yang kerap berziarah di sana mengakui ada yang aneh dari Bong Cina ini. Kabarnya, makam Cina ini seperti memiliki daya tarik tertentu untuk diziarahi. “Mungkin karena yang dimakamkan ini bukan orang sembarangan. Katanya sih orang-orang sering minta pengasihan dari makam ini,” tutur Samsul. Dengan kata lain, Samsul mengatakan bila makam ini memiliki aura kasih sayang.

Hanya saja, entah kenapa belakangan ini jumlah peziarah sedikit berkurang. Konon, itu terjadi setelah juru kunci resmi makam ini meninggal dunia. Menurut warga sekitar makam, kini tak ada lagi juru kunci resmi yang memelihara makam. Sehingga jangan heran bila Bong Cina di belakang ini kurang terawat. Beberapa bagian tembok bong bahkan telah runtuh. Deretan pedagang makanan yang bila alam hari amat ramai, seperti tak mempedulikan keberadaan makam, yang tiada lain adalah tokoh terhormat.

Versi lain

Sebuah versi menyebutkan hal lain. Buku sejarah Cirebon yang disusun PS Sulendraningrat, menyebut-nyebut nama Tan Gun We sebagai Tan Sam Cay Khong. Ia adalah tokoh Budha yang datang bersama istrinya Loa Lip Ay, dari Kampugn Tan Lam Sia, kabupaten Ciang Ciu Liong Kee, Provinsi Hokkian, Cina. Mereka memang saudagar besar yang memiliki rasa sosial tinggi. Mereka senang membagi-bagikan harta kepada fakir-miskin, suka menolong orang susah dan merupakan partner usaha yang baik bagi kerajaan.

Keberadaannya memang membantu kehidupan social ekonomi rakyat ketika itu. Karenanya, Tan menerima penghargaan sebagai Tumenggung Aria Wiracula dari Sultan Sepuh. Banyak yang berharap agar makam di belakang Pasar Pagi ini dipelihara sebagai situs sejarah. Sebab sedikit banyak ikut berperan membangun Kota Cirebon. ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP