20 Juli 2009

Keunikan Kampung Adat Cireundeu Cimahi (2)

Ciri khas warga Cireundeu adalah makanan pokoknya. Konon, sejak 1924, mereka tidak pernah lagi makan nasi beras. Tapi memakan nasi singkong. Singkong ini diolah dan dibuat menjadi nasi singkong. Abah Emen Sunarya, Sesepuh Cirendeu, mengaku bahwa mereka sudah makan singkong sejak tahun 1924. Generasi tua Cirendeu pun mengiyakan bila mereka tidak mengenal rasa nasi dari beras.

Mengapa warga Cirendeu makan singkong? Seperti dituturkan Abah Emen, semua berawal dari kisah yang terjadi pada tahun 1924-an. Ketika itu, di zaman penjajahan Belanda, lahan sawah yang telah ditanami padi tiba-tiba mongering dan puso. Sementara suplai beras dari pemerintah Belanda waktu itu sangatlah sulit. Di tengah masa yang teramat sulit itu, Haji Ali, tokoh masyarakat Cirendeu, warga kampung mulai mencari jalan keluarnya.

jalan keluarnya adalah dengan mengganti sawah menjadi kebun singkong. Sejak itulah warga Cirendeu membiasakan diri mengonsumsi singkong. Hal ini didahului dengna keluarnya wejangan dari Haji Ali, yang initinya minta masyarakat menunda mengonsumsi beras, dan beralih ke umbi-umbian. Rupanya wejangan itu tetap melekat pada warga masyarakat Cirendeu hingga saat ini.

Dengan peralihan makanan pokok ini, warga Cireundeu tidak tergantung pada beras. Sehingga saat daerah lain mengalami musim paceklik, mereka tidak mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. Mereka lantas menyatakan syukur atas nikmat alam dari Tuhan dengan cara melaksanakan Upacara Tutup Tahun, Ngemban Tahun 1 Sura 1941 Saka.

Selain peristiwa pada tahun 1924 tersebut, alasan mereka menjadikan singkong sebagai makanan pokok karena berpegang pada wejangan leluhur. Salah satu warisan itu adalah tetap mempertahankan singkong, bukan beras. Memang ada sebagain kecil warga yang mengonsumsi beras, tapi lebih banyak warga yang tetap bertahan makan nasi dari bahan singkong, yang oleh penduduk di sana disebut dengan istilah rasi atau beras nasi.

Tanam Singkong

Bila mengamati letak geografis Kampung Cirendeu, rasanya tak salah jika warganya memilih singkong sebagai makanan pokok. Letak kampung ini dikelilingi pegunungan. Lahan seperti ini memang hanya cocok untuk tanaman pangan non-beras atau tanaman sejenis umbi-umbian. Dan, nenek moyang mereka ternyata memilih singkong. Berdasarkan kebiasaan itu pun tetap dilestarikan hingga sekarang.

Kampung Cirendeu pernah menjadi pusat perhatian tatkala harga bahan pokok beras melambung tinggi. Ketika itu Departemen Pertanian dan Badan Ketahahan Pangan Republik Indonesia mulai menggalakkan diversifikasi pangan. Kampung Cireundeu lalu menjadi salah contoh bahwa orang bisa bertahan hidup dan sehat tanpa harus mengonsumsi beras. Departemen Pertanian juga memberikan anugerah sebagai daerah yang memiliki ketahanan pangan. Sayangnya, para petani singkong di sana justru belum mendapat perhatian dari pementintah.

Para petani singkong di Cireundeu, menggarap tanaman ini mulai penanaman hingga memasarkan hasil panennya. Dan itu dilakukan secara tradisional. Kebanyakan para petani di kampung ini tidak memasarkan singkongnya secara langsung ke pasar. Tapi, mereka lebih dulu mengolah singkong itu menjadi Aci (sagu), dan hasil olahan inilah yang dijual ke pasar.
Sesuai karakternya, tanaman singkong memang bukan tanaman musiman. Karenanya, setiap saat singkong dapat dipanen. Namun demikian, tetap ada saat-saat panen raya yang melibatkan seluruh masyarakat untuk mulai memetik hasilnya. Dari kampung seluas 100 hektar ini, setiap bulan bisa menghasilkan 2 ton singkong. Hasil ini masih bisa ditingkatkan lebih besar lagi jika saja ada perhatian dari pemerintah.

Dipastikan setiap 50 kepala keluarga Kampung Cirendeu memiliki lahan singkong dengan luas yang bervariasi. Rata-rata mereka memiliki lahan seluas 1 hingga 3 hentar. Namun, ada pula yang memiliki lahan kurang dari satu hektar. Warga yang tak memiliki lahan, biasanya bekerja sebagai buruh pabrik dan berniaga.

Agar hasil produk singkong bisa dipanen setiap bulan, mereka mengatur pola tanam singkong. Caranya, awal tanam pada masing-masing petak lahan singkong dibuat berbeda. Dengan cara itu, diperoleh usia singkong yang berbeda pula. Ada tanaman yang berusia muda, 3 hingga 6 bulan, dan ada pula yang usia tua (siap panen), satu tahun. Jadi, karena dibuat beda usia, maka panennya bisa dilakukan setiap saat.

Setelah dipanen, singkong ini langsung diolah menjadi aci (sagu) dan hasil olahan ini kemudian dijual ke pasar dengan harga Rp3.000 per kilogram. Ampas singkong (setelah sagunya diambil) tidak dibuang. Itulah yang kemudian dijadikan beras nasi (rasi), yang dikenal pula dengan nama Sanguen. ***

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP