20 Juli 2009

Keunikan Kampung Adat Cireundeu Cimahi (1)

Secara fisik, Kampung Cireundeu tak beda dengan kampung kebanyakan, terutama bentuk fisik bangunan rumahnya. Tapi, mengapa Cireundeu kerap disebut kampung adat ? Karena, Cireundeu memiliki banyak keunikan. Di antaranya, mayoritas warga kampung ini masih mengonsumsi singkong sebagai makanan pokok. Selain itu, mayoritas masyarakat Cireunde masih menjalankan ajaran Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Serta, menggelar upacara Saka 1 Sura secara rutin.

“Wilujeung Sumping di Kampung Cirendeu.“ Plank bertulis latin dalam bahasa Jawa Sunda kuno. Plank itu terpampang di mulut jalan masuk kampung Cirendeu. Ia bagai isyarat bagi para pendatang telah berada di wilayah Kampung Cirendeu. Bagi warga Cirendeu, plank selamat datang ini bermaksud memberi sinyal bila kampungnya mewarisi adat istiadat tinggalan karuhun (leluhur) dan hingga kini masih melestarikannya.

Cireundeu adalah sebuah kampung yang terletak di lembah Gunung Kunci, Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu. Secara administratif, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Tak jauh dari kampung adalah bekas lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, yang pernah longsor dan memangsa lebih dari seratus jiwa.

Secara fisik, Cireundeu memanglah kampung biasa. Namun karena ketatnya menjalankan tradisi karuhun, kampung ini akhirnya dikukuhkan secara de fakta sebagai kampung adat. Sebagian besar warga Cireundeu masih memegang teguh ajaran Agama Jawa Sunda yang dibawa Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan.

Satu hal yang paling mencolok dari kegiatan adat masyarakat Cireundeu adalah rutinitas menggelar hajat peringatan tahun baru Saka 1 Sura. Gelar adat inilah yang makin mengokohkan Cireundeu sebagai salah satu kampung adat di Jawa Barat. Ini sederajat dengan kampung adat lain seperti Kasepuhan Cipta Gelar (Banten Kidul, Sukabumi), Kampung Naga (Tasikmalaya), Kampung Dukuh (Garut), Kampung Urug (Bogor), dan lainnya.

Tahun baru Saka 1 Sura yang diperingati warga Cireundeu, bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharam. Dalam tradisi Jawa, 1 Muharam dinamakan 1 Sura. Atau bahasa lisannya 1 Suro. Jika Islam menggunakan Hijriyah, maka tradisi Jawa menggunakan Saka sebagai tahun. Persamaan antara tahun Hijriyah dan Saka adalah sama-sama penanggalan lunar atau memakai patokan peredaran bulan. Selain itu, patokan lainnya adalah 1 Muharam dalam Hijriyah. Tahun Saka Jawa resmi dipakai sejak zaman Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram, menggantikan Saka Hindu.

1 Sura bagi warga Cireundeu, ibarat Lebaran. Sebelum tahun 2000, mereka selalu mengenakan pakaian baru. Namun beberapa tahun terakhir ini, adat mereka dilembagakan. Saat upacara adat, kaum lelaki mengenakan pakaian pangsi warna hitam, sementara kaum perempuan mengenakan kebaya atau pakaian warna putih. Gunungan sesajen, berupa buah-buahan dan nasi singkong, tersaji di tengah ririungan (kumpulan) warga di Balai Adat. Warga terpekur mendengarkan wejangan dari sesepuh Kampung Cireundeu, Abah Emen Sunarya.

Kampung Adat

Kini keberadaan Kampung Cireundeu semakin terangkat sebagai sebuah kampung adat. Tak heran, setiap 1 Sura, kampung ini selalu menjadi daerah tujuan sejumlah peneliti untuk mengetahui ritual-ritual saat tahun baru. Karena animo besar dari luar Cimahi berkunjung ke kampung ini setiap 1 Sura, maka Cireundeu pun menjadi aset wisata Kota Cimahi. Sebab jelas bila kota kecil ini amat kering akan daerah tujuan wisata.

Abah Emen Sunarya (72), sesepuh Kampung Adat Cireundeu mengatakan, secara fisik, kampungnya tidak berbeda dengan kampung kebanyakan. Terutama bentuk bangunan rumah-rumah penduduknya. Antara lain menggunakan atap dari genting, dinding memakai tembok, jendela dari kaca dan nyaris hampir seluruh rumah mengenyam teknologi televisi, radio, termasuk hand phone. “Jangan dilihat dari sisi fisik. Tapi lihatlah pribadi warga di sini. Semua masih menerapkan aturan adat dan menjalankan ajaran Pangeran Madrais,” tuturnya.

Warga Cireundeu mulai mengenal Pangeran Madrais (Cigugur) sejak tahun 1918. Hingga kini, kata Abah Emen, falsafah hidup masyarakat Cireundeu belum banyak berubah sejak puluhan tahun lalu. Mereka masih memegang ajaran moral tentang bagaimana membawa diri dalam hidup ini.

Menurut Abah Emen, ritual 1 Sura yang rutin digelar sejak kala, merupakan salah satu simbol dari falsafah tersebut. Upacara suraan, demikian warga Cireundeu menyebutnya, memiliki makna yang dalam. Bahwa manusia itu harus memahami bila ia hidup berdampingan dengan mahluk hidup lainnya. Baik dengan lingkungan, tumbuhan, hewan, angin, laut, gunung, tanah, air, api, kayu, dan langit. “Karena itulah manusia harus mengenal dirinya sendiri, tahu apa yang dia rasakan untuk kemudian belajar merasakan apa yang orang lain dan mahluk hidup lain rasakan,” katanya.

Ajaran Madrais

Seperti apa ajaran Madrais yang masih dituruti sebagian warga Cireundeu. Seorang Antropolog Belanda, menyebut ajaran Madrais dengan sebutan Agama Djawa Sunda (ADS). Yakni kepercayaan sejumlah masyarakat yang tersebar di daerah Cigugur, Kabupaten Kuningan. Termasuk juga di Cireundeu. Agama ini dikenal juga sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur.

Abdul Rozak, seorang peneliti kepercayaan Sunda, menyebutkan bahwa agama ini adalah bagian dari agama Buhun. Yaitu kepercayaan tradisional masyarakat Sunda yang tidak hanya terbatas pada masyarakat Cigugur di Kabupaten Kuningan, tetapi juga masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, di daerah Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, dan daerah lainnya.

Agama Djawa Sunda atau agama Sunda Wiwitan ini dikembangkan oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Dahulu, oleh pemerintah Belanda, Madrais pernah ditangkap dan dibuang ke Ternate. Ia baru kembali sekitar tahun 1920 untuk melanjutkan ajarannya. Menurut Abah Emen, muawal ajaran Madrais dikembangkan di Cireundeu ini setelah pertemuan kakeknya, H Ali dengan Pangeran Madrais tahun 1930-an. Dan pada tahun 1938, Pangeran Madrais berkunjung ke Cireundeu dan sempat lama menetap di sana.

Madrais — yang biasa juga dipanggil Kiai Madrais — adalah keturunan dari Kasultanan Gebang, sebuah kesultanan di wilayah Cirebon Timur. Ketika pemerintah Hindia Belanda menyerang kesultanan ini, Madrais diungsikan ke daerah Cigugur. Sang pangeran yang juga dikenal sebagai Pangeran Sadewa Alibasa, dibesarkan dalam tradisi Islam dan tumbuh sebagai seorang spiritualis. Ia mendirikan pesantren sebagai pusat pengajaran agama Islam. Namun ia kemudian mengembangkan pemahaman yang digalinya dari tradisi pra-Islam masyarakat Sunda yang agraris. Ia mengajarkan pentingnya menghargai cara dan ciri kebangsaan sendiri, yaitu Jawa-Sunda. ***

0 komentar:

Poskan Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP