25 Juli 2009

Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan tapak sejarah penting. Ia merupakan pusat pemerintahan sekaligus pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Mula didirikan oleh Pangeran Cakrabuwana dengan nama Keraton Pakungwati, kemudian diperluas dan diperbaharui oleh Sunan Gunung Jati pada 1483 M. Kini, keraton masih lestari dengan segenap peninggalannya dan arsitektur yang bernilai tinggi.

Seperti daerah pesisir umumnya, Pelabuhan Cirebon pada masa lalu dikenal sebagai pusat perdagangan internasional. Kota Cirebon pun banyak disinggahi para pedagang dan saudagar. Menurut catatan, sebutan Cirebon berasal dari kata "caruban" yang artinya campuran. Sebab kala itu, banyak pedagang dan saudagar dari berbagai bangsa yang berbaur dan menetap di kota itu. Kemudian terciptalah akulturasi budaya.

Arsitektur Unik

Di samping sebagai kota niaga, Cirebon termasuk pusat penyebaran agama Islam di tanah Jawa sehingga jejak-jejaknya cukup dominan. Salah satu artefak akulturasi budaya itu adalah Keraton Kasepuhan. Bangunan arsitektur dan interior Keraton Kasepuhan menggambarkan berbagai macam pengaruh, mulai dari gaya Eropa, Cina, Arab, maupun budaya lokal yang sudah ada sebelumnya, yaitu Hindu dan Jawa. Semua elemen atau unsur budaya di atas melebur pada bangunan Keraton Kasepuhan tersebut.

Pengaruh Eropa tampak pada tiang-tiang bergaya Yunani, sejenis Dorik yang digunakan pada bangunan pendopo Pancaniti. Bangunan tersebut letaknya di bagian depan sebelah kanan. Tiangnya berbentuk bulat atau silindris serta mengecil pada bagian ujungnya. Pada bagian bawah serta atas, tiang diberi hiasan tambahan sederhana berbentuk persegi. Fungsinya sebagai hiasan maupun penyangga konstruksi. Ukurannya sedang dan cenderung kurang proporsional untuk ukuran bangunan Pancaniti yang relatif kecil.

Tiang semacam di atas terdapat juga pada bangunan Jinem Pangrawit, Jinem Arum yang terletak di samping bangunan utama maupun bangsal Gajah Nguling. Bahkan, tiang yang terdapat di Jinem Pangrawit terdiri atas dua jenis, yaitu yang berbentuk bulat dan segidelapan. Masing-masing diberi hiasan berupa cembungan vertikal di sekeliling badannya serta hiasan alas dan kepala yang indah. Di seluruh permukaan badan tiang bulat diberi hiasan cembung kecil-kecil mengitari seluruh badannya. Alasnya berupa bentuk persegi, tetapi hiasan kepalanya cukup indah, berupa piringan tiga tumpuk dengan pinggiran bergerigi cembung.

Selanjutnya, pada bangunan Gajah Nguling, yaitu semacam koridor terbuka yang menghubungkan bangsal Jinem Pangrawit dengan bangsal Pringgondani, terdapat enam buah tiang yang berbentuk bulat sama seperti tiang yang terdapat di bangsal Jinem Pangrawit. Yang menarik, seluruh tiang tersebut digunakan untuk menyangga konstruksi atap dari kayu bergaya arsitektur Jawa. Sehingga kesannya kurang cocok karena tiang-tiangnya terlalu kokoh dan kesannya berat.

Arsitektur gaya Eropa lainnya berupa lengkungan ambang pintu berbentuk setengah lingkaran yang terdapat pada bangunan Lawang Sanga (pintu sembilan). Masing-masing dari ketiga sisinya memiliki tiga lengkungan yang berangkai. Bangunan tersebut letaknya di luar kompleks keraton, bercampur dengan rumah-rumah penduduk. Sehingga kesan kemegahan dan keindahan bangunan tersebut sirna. Di samping itu, bangunan tersebut kurang terawat.

Pengaruh gaya Eropa lainnya adalah pilaster pada dinding-dinding bangunan, yang membuat dindingnya lebih menarik tidak datar. Gaya bangunan Eropa juga terlihat jelas pada bentuk pintu dan jendela pada bangunan bangsal Pringgondani, berukuran lebar dan tinggi serta penggunaan jalusi sebagai ventilasi udara. Pada bagian atas pintu terdapat tempat cahaya/udara masuk yang disebut bovenlicht (boven = atas, licht = cahaya).

Bovenlicht tersebut berupa kerawang dengan motif flora dan fauna, tetapi objek binatangnya hanya satu dan ukurannya pun kecil. Objek utamanya berupa bunga berwarna merah yang diletakkan di antara jalinan batang dan daun berwarna hijau yang melingkar serta meliuk di seluruh permukaan bidang kerawang. Gaya sulur-suluran tersebut mengingatkan pada gaya Art Nouveau yang berkembang di Eropa pada abad ke-18.
Bangsal Prabayasa (praba = gemerlapan, yasa = tempat/bangunan) yang artinya tempat yang paling gemerlapan atau mewah. Pada zaman dahulu fungsinya sebagai tempat menerima tamu-tamu agung. Bangunan tersebut ditopang oleh tiang saka dari kayu yang berjumlah empat buah yang ditempatkan di tengah-tengah ruangan. Tiang saka tersebut diberi hiasan motif tumpal yang berasal dari Jawa, berwarna emas dipadukan dengan warna tiangnya yang hijau.

Di bagian pangkal tiang menyangga konstruksi atap Joglo diberi pula hiasan berwarna-warni yang disebut ganja, terdiri atas warna merah, hijau, dan emas. Agar stabil dan mencegah rayap, pada bagian bawah tiang diberi alas batu berbentuk limas terpancung yang disebut umpag. Umpag-umpag tersebut diberi pula hiasan motif tumpal.

Pengaruh Cina

Pengaruh arsitektur Hindu-Jawa yang jelas menonjol adalah bangunan Siti Hinggil (siti = tanah, hinggil = tinggi) yang terletak bagian paling depan kompleks keraton. Siti Hinggil berupa kompleks bangunan terbuka yang terdiri atas lima buah bangunan panggung tanpa dinding, yang disebut Candi Bentar dan beratap joglo dari bahan sirap. Seluruh bangunan terbuat dari konstruksi batu bata seperti lazimnya bangunan candi Hindu. Sekeliling kompleks diberi pagar dari susunan batu bata dengan pilar berbentuk menara yang disebut Candi Laras, serta ornamen kerawang yang berbentuk geometris segidelapan di sepanjang badan pagar.

Kesan bangunan gaya Hindu terlihat kuat terutama pada pintu masuk menuju kompleks tersebut, yaitu berupa gapura berukuran sama atau simetris antara bagian sisi kiri dan kanan seolah dibelah. Sehingga ada yang menyebutnya Candi Belah. Siti Hinggil merupakan hasil direnovasi pakar Belanda pada tahun 1936. Antara bangsal Prabayasa dan bangsal Agung terdapat sebuah tangga tembok karena bangsal yang disebutkan terakhir lantainya lebih tinggi. Ketinggian tersebut sebagai simbol atau hierarki bagi tempat yang lebih agung atau terhormat karena diperuntukkan bagi permasyuri dan putra mahkota.

Pada pilar depan dan belakang tangganya diberi hiasan tiga dimensi berbentuk bunga teratai berwarna merah. Bunga teratai dipercaya sebagai simbol dari kehidupan dan keabadian, sedangkan warna merah lambang dari darah, kehidupan, maupun surgawi. Pada dinding kiri dan kanan bangsal Agung yang mengapit tangga tersebut, terdapat hiasan relief yang menggambarkan kembang kanigaran (bunga manggis) berwarna merah dan di beberapa bagian diberi warna kuning sebagai upaya membentuk volume. Kembang -kembang tersebut disusun berkelompok di tengah dan beberapa lagi disebarkan diseluruh bidang relief.

Kembang kanigaran sebagai lambang dari kejujuran. Seperti kita ketahui, isi buah manggis bisa diterka melalui kelopak yang terdapat pada kulit luarnya. Jika kelopaknya berjumlah lima, isi dari buah tersebut lima juga. Kemudian di atas susunan bunga terdapat dua buah manuk genduwong (burung beo) berwarna putih yang ditempatkan di kiri dan di kanan secara simetris. Seperti kita ketahui, burung beo adalah burung yang pandai bicara seperti manusia.

Dinding tersebut selain diberi hiasan relief--yang ditempatkan di tengah-tengah--juga seluruh permukaan dindingnya diberi hiasan tempelan porselen dari Belanda berukuran kecil 1 10 x 10 cm berwarna biru (blauwe delft) dan berwarna merah kecoklatan. Pada bagian paling bawah, dari permukaan lantai bangsal Agung hingga lantai bangsal Prabayasa terdapat hiasan berbentuk geometris meander berukuran cukup besar. Pada bagian tengahnya diberi tempelan piring porselen Cina berwarna biru.

Lukisan pada piring tersebut melukiskan seni lukis Cina dengan teknik perspektif yang bertingkat. Sebenarnya penempelan keramik dan porselen tersebut juga ditemukan pada seluruh dinding bangsal termasuk pintu buuk yang terletak di samping bangunan bangsal. Akan tetapi, polanya berbeda, yaitu diletakan secara miring 45 derajat dan menyebar dalam jarak tertentu pada seluruh permukaan dinding maupun pilar.

Pengaruh Cina juga terlihat pada ornamen bangunan Kuncung menyerupai gapura dengan ornamen wadasan (batu cadas) di bagian bawah sebagai simbol kekuatan dan Megamendung (awan mendung) di bagian atasnya. Kedua jenis ornamen tersebut simbol dari dunia atas dan bawah. Di tengah bangunan terdapat pintu gerbang berambang lengkung dengan ditopang pilar bergaya Eropa, menunjukkan kecenderungan gaya arsitektur yang beragam dan kompleks. ***

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP