22 Juli 2009

Kekhasan Kampung Mahmud

Kampung Mahmud adalah satu dari sekian banyak kampung adat yang ada di tanah air. Adat istiadat leluhur masih tetap lestari, meski beberapa sudah luntur karena tergerus kemajuan zaman. Potret kehidupan masyarakat yang bersahaja, masih terlihat di sana-sini. Dan inilah keunikan kampung yang dikelilingi sungai Citarum ini.

Secara administratif, Kampung Mahmud masuk dalam lingkungan RW 04 Desa Mekarrahayu, Kecamatan Marga Asih, Kabupaten Bandung. Secara geografis, kampung ini cukup eksklusif karena berada dalam lingkaran Sungai Citarum. Dengan kondisi itu, otomatis warga kampung Mahmud seolah berada di tengah-tengah dan terpisah dengan daerah-daerah tetangga.

Namun sejak beberapa tahun silam, sebuah jembatan besar dan permanen telah menembus kampung tersebut. Sarana jembatan inilah yang seolah memutus “keterasingan” warga Mahmud dengan dunia luar. Bahkan seiring perkembangan Kota Bandung yang mengarah metropolitan, wilayah-wilayah pinggiran kota berjuluk Parijs van Java ini pun mendapat biasnya. Ikut maju, yang ditandai akses jalan dan kendaraan angkutan umum yang lebih memadai.

Kampung Mahmud hanya terletak sekitar 5 kilometer dari kompleks perbelanjaan di dekat batas Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Tempat ini cukup mudah dijangkau dari Kota Bandung, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Ada beberapa rute alternatif yang dapat ditempuh menuju Kampung Mahmud, khususnya dengan kendaraan umum.

Pertama, dari terminal Kebun Kelapa menggunakan angkutan kota dengan rute Kebun Kelapa -Cibaduyut, lalu berhenti di terminal Tegallega. Dari terminal tersebut, menggunakan angkutan kota dengan rute Tegallega-Mahmud, kemudian berhenti di lokasi Kampung Mahmud. Di bawah pukul 09.00 WIB, angkutan tersebut biasanya hanya sampai Bumi Ash I. Untuk melanjutkan perjalanan ke Kampung Mahmud, tersedia delman atau ojeg.

Alternatif kedua, dari terminal Kebun Kelapa menggunakan angkutan kota dengan rute Kebun Kelapa - Cibaduyut, lalu turun di terminal Leuwi Panjang. Dari terminal itu naik angkutan kota dengan jurusan Cipatik, lau berhenti di Rahayu. Selanjutnya naik ojeg menuju Kampung Mahmud. Perjalanan melalui kedua rute tersebut menghabiskan waktu lebih kurang 90 menit.

Di sepanjang jalan masuk Kampung Mahmud berderet warung makan. Ini lantaran sejak beberapa tahun ke belakang, kampung ini banyak dikunjungi tamu yang ingin berziarah ke Makam Eyang Dalem Abdul Manaf. Peziarah semakin membludak ketika bulan Maulud dan hari-hari menjelang bulan Ramadhan.

Rumah asli penduduk Kampung Mahmud adalah berdinding bilik dan tidak bertembok, serta berbentuk panggung. Selain merupakan aturan adat, warga di sana mulanya sangat menjunjung kesederhanaan dan tak saling menonjolkan diri. Selain itu, tentu saja dengan pertimbangan bahwa tanah yang mereka pijak sangat labil karena yang berasal dari rawa. Hanya saja, di sana-sini kini mulai terlihat rumah-rumah bertembok dan menggunakan kaca.

Tanah Arab

Meskipun sarana jembatan telah menjebol keterasingan, tapi di salah satu sudut kampung Mahmud, sarana perahu penyeberangan rakyat masih berfungsi. Itu untuk menyambung sarana transportasi antar warga Kampung Mahmud dengan kampung tetangga. Pemandangan seperti ini mengingatkan kenangan orang akan masa-masa indah tahun 1960-an. Ketika pembangunan jembatan masih belum menyentuh daerah-daerah terpencil di tanah air.


Warga Kampung Mahmud memiliki nilai-nilai kepercayaan terhadap karuhunnya. Antara lain kepercayaan jika mereka adalah keturunan Eyang Dalem Abdul Manaf, keturunan Sultan Mataram. Ia pergi ke Mekkah pada abad ke-15, dan kembali dengan membawa segenggam tanah. Segenggam tanah itu lalu diletakkan di wilayah rawa yang angker di pinggir Sungai Citarum. Wilayah di mana tanah itu diletakkan kemudian berkembang menjadi Kampung Mahmud yang sekarang ini kita kenal.

Setelah mendirikan rumah dibantu beberapa santrinya, tempat itu mulai didatangi orang-orang untuk mendirikan rumah di sana. Karena tanahnya labil, ia melarang penduduk membuat sumur, tembok, dan kaca. Eyang Abdul Manaf juga melarang penduduk memelihara ternak angsa dan kambing, atau memiliki beduk dan gong untuk menghindarkan masyarakat dari ancaman penjajah. Sebab, kampung itu berfungsi juga sebagai tempat persembunyian.

Eyang Abdul Manaf dikenal pula sebagai seorang ulama sederajat Wali asal Mataram. Sekembali dari Mekkah, ia enggan kembali ke kerajaannya dan memilih bermukim di tanah kosong di sisi Citarum itu. Eyang Abdul Manaf juga melakukan syiar Islam, bersama sejumlah santrinya, ia mulai menata kawasan tersebut hingga menjadi sebuah perkampungan sebagai basis syiar Islam bagi penduduk di sekitar Bandung. Lama kelamaan kawasan tersebut lebih dikenal dengan sebutan Kampung Mahmud. karena dianggap sebagai karuhun (leluhur), penduduk Kampung Mahmud amat menghormatinya. Mereka terbiasa memanggilnya Eyang Mahmud atau Eyang Haji. Dan hingga meninggal dunia, ia di makam di salah satu tempat di situ dan patilasannya diyakini menyimpan kekeramatan yang luar biasa.

Pantangan Adat

“Dulu di sini Eyang Haji sempat menanamkan sekepal tanah yang dibawa langsung dari Mekkah. Di tempat tanah Mekkah yang ditanam itulah Eyang Haji menempatkan 40 jin pengikutnya untuk menjaga agar kampung itu tidak bisa dijahili orang. Bahkan diceritakan, di masa lalu wilayah ini tidak pernah ditemukan oleh pihak penjajah. Sehingga kampung ini dijadikan tempat persembunyian,” tutur H. Syafei, tokoh masyarakat Kampung Mahmud, yang masih keturunan Eyang Abdul Manaf.

Sebagai tempat persembunyian dari incaran penjajah, Eyang Abdul Manaf menerapkan beberapa aturan yang harus dipatuhi warganya. Antara lain dilarang membangun gedong (rumah dari tembok), apalagi memakai kaca. Dilarang menggali sumur. Dilarang menabuh bedug, memelihara angsa, serta dilarang menyelenggarakan pertunjukan yang didalamnya ada perangkat gamelan berupa goong. SEhingga jangan heran bila di wilayah Kampung Mahmud tidak pernah ditemukan ada pertunjukan wayang, jaipong dan sejenisnya.

Menurut H. Syafei, nama Mahmud sendiri berarti yang dipuji. Hanya saja, H Syafei menyayangkan kini perilaku warga Kampung Mahmud ada yang tidak terpuji. Terbukti ada diantara mereka yang berani melanggar pantangan adat seperti mendirikan rumah dari tembok secara berlebihan. “Hal ini mungkin karena pengaruh perkembangan zaman dan bukti mulai lunturnya nilai-nilai peninggalan leluhur,” katanya.

Ramai Peziarah


Di Kampung Mahmud terdapat sejumlah makam yang dikeramatkan warga. Beberapa makam seringkali diserbu para peziarah dan berharap berkahnya. Bahkan tidak sedikit peziarah yang datang dari jauh dan menginap di sana. Biasanya peziarah akan membludak pada sepanjang bulan Maulud, puncaknya pada malam Jumat Kliwon. Sebagai gambaran, ketika hari itu tiba, keadaan Kampung Mahmud bagaikan pasar malam. Konon, ada keyakinan bila pada saat-saat tersebut, para leluhur datang dan berkumpul untuk mengamini segala harapan yang disampaikan.

Daya tarik peziarah selain untuk bermunajat di makam-makam leluhur, mereka juga percaya kekeramatan Kampung Mahmud. Bahwa di kampung itu masih terdapat pantang adat yang bila dilanggar maka bisa menimbulkan petaka. Selain itu, Kampung Mahmud juga dianggap sebagai wilayah “ajaib” karena tidak pernah tersentuh banjir, meskipun di lingkari Sungai Citarum yang sering meluap bila musim hujan tiba.

Menurut cerita, hal itu dikarenakan Eyang Haji sempat menugaskan murid kesayangannya bernama Abdullah Gelung. Ia seorang tokoh sakti yang pernah melakoni tapa brata selama 33 tahun di 33 gunung besar di seantero tanah Jawa. Tujuannya untuk untuk melindungi seluruh warga kampung dari ancaman banjir. Dan terbukti hingga saat ini air bah tidak sampai menjilat Kampung Mahmud.

Selain itu, Eyang Haji juga memiliki seorang murid dari bangsa jin yang bernama Raden Kalung Bimanagara. Sosoknya terkadang menampakkan diri dengan wujud lelaki berwajah ganteng dan berbadan ular berwarna keemasan. Tugas Raden Kalung adalah untuk melindungi keturunan Eyang Haji yang tercebur ke dalam sungai Citarum. Menurut warga setempat, tidak ada orang yang berani melihat penampakannya. Dan juga tidak sembarang orang bisa mengundang kehadirannya.

Keanehan lain Kampung Mahmud adalah ketika air sungai Citarum mulai tercemar dan tidak sehat lagi untuk dikonsumsi. Ketika itu, Eyang Haji memberikan izin kepada warganya untuk membuat sumur. Awalnya, warga yang mencoba menggali sumur tidak pernah mendapati adanya mata air. Padahal galian telah demikian dalam. Hal ini sempat dicoba di beberapa tempat, tapi tidak berhasil.

Akhirnya Eyang Haji bermunajat kepada Allah SWT dan memohon agar diberikan air untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya. Tidak lupa Eyang Haji juga memohon restu kepada karuhun agar diperkenankan membuat sumur meski hal itu merupakan pelanggaran adat. Setelah melakukan hal itu, keanehan pun terjadi. Lubang galian sumur yang semula dibiarkan terebengkalai, mendadak mengeluarkan air.

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP