25 Juli 2009

Jejak Nyai Rambut Kasih Majalengka (2)

Setelah sembilan bulan dalam proses pengembaraan, maka ditemukanlah sebuah kawasan yang kemudian diberinama Majalengka. Kawasan ini berkembang dan beranak pinak menjadi ramai. Syeh Nurjati lantas memberi gelar Ratu Purbaningsi dengan nama Nyai Ratu Rambut Kasih. Di lokasi bekas peninggalan Nyai Ratu, staf pendopo Kabupaten Majalengka sering melihat penampakan wujud Nyai Rambut Kasih.

Sembilan bulan lamanya, ketiga anak Syeh Nurjati dan kedua pengawalnya tinggal di Majalengka. Rabu wage 17 Rajab 1405 Masehi, proses pencarian daerah yang kemudian menjadi Majalengka itu tuntas. Ketiga anak Syeh Nurjati lalu bermusyawarah mengenai kepengurusan pengelolaan daerah Majalengka untuk dijadikan semacam sebuah pemerintahan. Hasil musyawarah itu menetapkan:

Ratu Purbaningsih menduduki jabatan sebagai Mahkamah Agung, Dalem Permana menduduki jabatan sebagai Jaksa Agung, Dalem Rangga sebagai Bupati, Pinangeran Putih sebagai Wedana, Surawijaya sebagai Kepala Keamanan, Surya Nanggeuy sebagai Kepala Staf dan Parung Jaya sebagai staf.

Sementara itu, Syeh Nurjati di Cirebon merasa resah tak ada kabar dari ketiga anaknya. Ia lantas memberi perintah kepada Pangeran Muhammad untuk mencari keberadaan sang anak yang tengah membuka daerah kekuasaan di arah barat sebelah Selatan Gunung Ciremai itu. Dalam waktu bersamaan, Dalem Rangga pun menuju Cirebon untuk menyampaikan kabar kepada sang ayah.

Singkat cerita, terbentuklah pemerintahan Majalengka yang kemudian diresmikan oleh Syeh Nurjati. Syeh Nurjati amat berbangga atas keberhasilan ketiga anaknya. Selanjutnya, Sri Ratu Purbaningsih mendapat gelar Nyai Ratu Rambut Kasih oleh sang ayah. Dalam perkembangannya, daerah ini membentang dari utara ke selatan berjarak kurang lebih 52 km, dari barat ke timur kira-kira 42 km dengan luas keseluruhan 120.424 Ha. Dan seterusnya kawasan ini beranak pinak hingga menjadi 23 kecamatan dan 327 desa/kelurahan.

Nyai Rambut Kasih

Pada 17 Rajab 1405 Masehi, didirikan sebuah banguan kecil dan sederhana. Di sekelilingnya berjejer taman dan pohon-pohon yang besar dan rindang. Bangunan itu terbuat dari kayu itu beratap daun rumbia. Mulanya tempat ini berfungsi sebagai sarana pertemuan para pembesar dan sekaligus sebagai tempat perisitirahatan Ratu Rambut Kasih.

Tempat yang ditemukan Nyai Ratu Rambut Kasih inilah yang kini kemudian menjadi Pusat Pemerintahan Kabuapten Majelengka. Bangunan yang dulu kecil dan sederhana, kini sudah jadi bangunan kantor yang megah. Di tempat ini pula berdiri kantor Sekwilda dan rumah dinas Bupati Majalengka. Taman dan bangunan itu setiap pergantian bupati selalu mengalami renovasi.

Di sudut antara sebelah timur dan selatan terdapat air mancur yang dilengkapi dengan patung ikan. Dulu itu merupakan tempat bermainnya Nyai Ratu Rambut kasih. Ada cerita menarik seputar tempat bermainnya Nyai Rambut Kasih ini. Dulu, pernah ada seorang Bupati Majalengka yang tak percaya akan keberadaan Nyai Ratu di gedung pendopo. Ia bahkan merubah dan menghilangkan taman yang dulu tempat bermainnya Nyai Rambut Kasih tanpa izin kepada “empunya” taman.

Lantas apa yang terjadi? Setelah tak lagi menjabat Bupati, ia langsung jatuh sakit berkepanjangan. Sampai akhirnya ia wafat. Konon, kematian itu disebabkan ulahnya merubah taman tempat bermain Nyai Rambut Kasih dimusnahkan tanpa meminta ijin terlebih dahulu.

Diantara bangunan megah perkantoran Pemkab Majalengka, ada satu banguan yang seolah-olah dijadikan kamar khusus. Kamar tersebut dikeramatkan masyarakat. Kamar itulah dulu kala Nyai Rambut Kasih melakukan pekerjaan sehari-hari. Para ajudan bupati dan pembantu rumah tangga bupati, kerap menemui hal-hal aneh di kamar itu. Misalnya ada kursi yang bergerak sendiri atau asbak yang semula berada di atas meja terangkat sendiri. Terkadang di ruangan kerja tercium semerbak bunga.

Salah seorang staf pendopo kabupaten pernah punya pengalaman bertemu dengan seorang wanita yang amat cantik. Pakaiannya mengesankan kalangan ningrat tempo dulu. Rambutnya panjang tergerai, dengan mahkota bertengger dikepala. Dikupingnya terselip bunga melati. Melihat wanita cantik yang “mencurigakan” itu, staf pendopo ini terkejut diselingi rasa takjub. Namun ketika diikuti, wanita itu sudah menghilang di belakang taman.

Dekat kamar keramat itu, disediakan pula seperangkat gamelan kesenian Sunda. Namun ini hanya symbol belaka, sebab Nyai Rambut Kasih dikenal sangat suka kesenian dan lagu-lagu Sunda, meski ia berasal dari Cirebon. Anehnya, pada saat-saat tertentu, orang-orang yang melintas kamar itu kerap mendengar suara gamelan. Padahal sebelumnya tak ada orang yang tengah memainkan gamelan itu.

Karena kesenangan Nyai Rambut Kasih ini, maka tak heran bila ada warga yang hendak menggelar pesta pernikahan atau khitanan dengan hiburan Jaipongan, maka terlebih dahulu sinden harus melantunkan tembang Sunda kesukaan Nyai Rambut Kasih yakni Kembang Beureum, Engko dan Salisih. Bila itu tidak dilakukan, konon acara pesta tak akan berlangsung sukses. ***



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP