25 Juli 2009

Jejak Nyai Rambut Kasih Majalengka (1)

Nama Nyai Rambut Kasih cukup dikenal masyarakat Tatar Sunda. Bahkan keberadaannya kerap dikaitkan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Majalengka. Soal ini memang masih ada silang pendapat. Namun, beberapa petilasannya meyakinkan akan eksistensinya. Di tempat-tempat persinggahannya itu, Nyai Rambut Kasih kerap menampakkan diri sebagai sosok yang cantik rupawan. Siapa sebenarnya tokoh yang melegenda ini?

Sudah menjadi perbincangan umum bila sosok Nyai Rambut Kasih berkait erat dengan berdirinya Kabupaten Majalengka. Di kabupaten yang berbatasan dengan Indramayu, Ciamis, Sumedang dan Cirebon ini, beberapa petilasan Nyai Rambut Kasih masih ada dan terawat dengan baik. Yang paling apik dan terus menerus terjaga kondisinya adalah gedung pendopo Kabupaten Majalengka.

Gedung pendopo adalah kantor Bupati Majalengka saat ini. Dulu, gedung ini merupakan rumah kediaman Nyai Rambut Kasih. Di belakang gedung ini terdapat kamar Nyai Rambut Kasih dan seperangkat gamelan yang diperuntukkan khusus untuk menghibur sang Nyai. Kerap kali pegawai Pemkab Majalengka menyaksikan penampakkan seorang wanita berambut panjang terurai mengenakan gaun ala wanita bangsawan jaman dulu. Diyakini betul bila itulah sosok Nyai Rambut Kasih.


Selain gedung pendopo, patilasan Nyai Rambut Kasih yang kerap dikunjungi masyarakat, terletak di Kampung Parakan, Kelurahan Sindang Kasih, Majalengka. Di sini terdapat bangunan bercungkup, batu-batu tempat semadi dan sumur Cikahuripan yang airnya dipercaya bisa membawa keberkahan dalam hidup. Bahkan pada tanggal 7 Juni 1994, Bupati Majalengka H Adam Hidayat ketika itu, berkenan meresmikannya sebagai kawasan cagar budaya yang harus dilindungi.

Selain Sindang Kasih, tempat persinggahan Nyai Rambut Kasih lainnya terdapat di Dusun Banjaran Hilir, Kecamatan Banjaran, Majalengka. Lokasinya berada di tanah milik seorang juru kunci yang diamanahi secara turun-temurun. Masyarakat Dusun Banjaran Hilir dan sekitarnya, sampai sekarang masih mempercayai akan kehadiran sosok Nyai Rambut Kasih di tempat itu.

Bila ada warga yang hendak menggelar pesta pernikahan atau khitanan, sudah menjadi keharusan untuk terlebih dahulu melakukan ziarah dan berkirim doa kepada Nyai Rambut Kasih. Dan apabila di dalam pesta digelar pula hiburan Jaipongan, maka sinden harus melantunkan tembang Sunda kesukaan Nyai RAmbut Kasih seperti Kembang Beureum, Engko dan Salisih. Konon, bila sinden tidak menembangkan lagu itu, maka akan ada keluarga empunya hajat yang kesurupan.

Putri Bangsawan

Siapa sesungguhnya Nyai Rambut Kasih ini ? Riwayat Nyai Rambut Kasih berkaitan dengan keberadaan Raja Pajajaran yang tersohor, yakni Prabu Siliwangi. Bila ditelusuri, Prabu Siliwangi mempunyai isteri yang ketiga, yang bernama Ratu Munding Kalalean. Dari hasil perkawinan dengan isteri ketiga ini, Prabu Siliwangi dianugerahi tiga orang putra dan seorang putrid. Mereka adalah Walangsungsang, Rarasantang, Kiansantang dan Syeh Nurjati.

Putra keempat, yakni Syeh Nurjati, memperisteri ibu Ratu Siti Maningrat. Dari hasil perkawinan ini mereka dikaruniai dua orang putra dan seorang putri, yakni Dalem Rangga Wulan Jaya Hadikusumah, Permana Sakti Jaya Hadikusumah, dan Sri Ratu Purbaningsih. Pada tahun 1405 Masehi, Syeh Nurjati memanggil semua anaknya untuk menyampaikan tugas.

Tugas itu antara lain mereka harus menjadi orang yang berguna dan dikenang generasi mendatang karena kebaikannya. Karena itulah Syeh Nurjati segera memerintahkan ketiganya berangkat ke arah Barat sebelah Utara Gunung Ciremai. “Carilah oleh kalian pohon Maja. Kalau sudah ditemukan, kalian bertiga harus membuka daerah kekuasaan di sana,” titah Syeh Nurjati.

Usai menerima tugas itu, ketiganya langsung berangkat dengan membawa dua orang pengawal, yakni Pinangeran Putih dan Parung Jaya. Pada hari Senin, Jumadil Awal tahun 1405 M, mereka tiba di bagian Barat Gunung Ciremai. Dan tepat hari Jumat tanggal 1 bulan Rajab tahun 1405 M, sekitar jam 12 siang, pohon Maja sesuai yang sabda sang ayah, berhasil ditemukan oleh Dalem Rangga Wulan Jaya Kusumah. Namun yang ditemukan hanya dua pohon saja. Daerah tempat ditemukannya pohon maja itu saat ini adalah terminal Maja di Kecamatan Maja.

Di tempat ini, Dalem Rangga Wulan Jaya Hadikusumah menganjurkan kepada dua adiknya dan dua pengawalnya agar membangun dua padepokan. Usai membangun dua padepokan, Sri Ratu Purbaningsih minta ijin kepada kakaknya untuk pulang ke Cirebon. Akan tetapi Dalem Rangga tidak mengijinkan dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Kendati dilarang, Sri Ratu Purbaningsih tetap memaksa pergi ke Cirebon tanpa sepengetahuan kakaknya.

Karena tak mendapat ijin dari kakaknya, Sri Ratu jatuh di curugan (sekarang Cicurug). Merasa kehilangan sang adik, dua kakak beradik berusaha mencari. Sampai di Cicurug, sang adik tidak ada (langka). Berdasarkan fakta-fakta ini, diambilah kesimpulan bila kata Majalengka berasal dari pohon Maja yang ditemukan di daerah Maja, dan kata langka yang diambil dari jawaban Dalem Permana saat mencari adiknya Sri Ratu Purbaningsih.

Setelah sekian waktu pencarian, akhirnya Ratu Purbaningsih ditemukan. Mereka bertiga lantas membangun kawasan itu menjadi daerah pemukiman, sekaligus pemerintahan. Sampai beberapa waktu kemudian daerah itu berkembang pesat. Sang ayah, Syeh Nurjati amat berbangga atas keberhasilan ketiga anaknya. Selanjutnya, Sri Ratu Purbaningsih mendapat gelar Nya Ratu Rambut Kasih oleh ayahandanya. (bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP