19 Juli 2009

Asal Usul Nama Kampung Cikondang

Nama Cikondang untuk kawasan adat ini bisa ditelusuri melalui tapak sejarah, bukti fisik dan falsafah yang dalam. Dahulu, di daerah ini ada seke (mata air atau cai) yang ditumbuhi pohon besar yang dinamakan kondang. Akhirnya orang-orang tua zaman dulu menamakan tempat ini dengan Cikondang atau kampung Cikondang. Nama itu perpaduan antara sumber air dan pohon Kondang; “Ci” berasal dari kependekan kata “cai” artinya air (sumber air), sedangkan"kondang" adalah nama pohon.

Sesepuh Kampung Cikondang, Abah Ilin Dasyah menuturkan, bahwa masyarakat kampung Cikondang meyakini karuhun (leluhur) mereka adalah salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Mereka memanggilnya dengan sebutan Uyut Pameget dan Uyut Istri. Makom kedua tokoh itu pun masih ada dan di rawat dengan baik di areal bumi adat, atau tepatnya berada di dalam hutan keramat.

Kebakaran Besar

Pada awalnya, seluruh bentuk bangunan di Cikondang menggunakan pola arsitektur tradisional, seperti kita lihat di Kampung Naga, Cipta Gelar, Kampung Dukuh atau Kampung Kuta. Jumlah seluruh bangunan itu sekitar 100 rumah. Namun sekitar tahun 1942, terjadi kebakaran besar yang menghanguskan semua rumah kecuali Bumi Adat di pinggi hutan larangan. Menurut Abah Ilin, penyebab kebakaran akibat keteledoran seorang tamu yang membawa obor yang tanpa disadarinya tiba-tiba menjilat atap rumah yang terbuat dari ijuk.

Selanjutnya, masyarakat di sana ingin membangun kembali rumahnya. Namun karena bahan-bahan untuk membangun rumah adat berarsitektur tradisional membutuhkan bahan cukup banyak, sementara bahan yang tersedia di hutan keramat tidak memadai, akhirnya mereka memutuskan untuk membangun rumahnya dengan arsitektur yang umum. Meski begitu, keinginan membangun rumah dengan arsitektur pada umumnya ini harus mendapat restu dari karuhun.

Maka ketika itu, Anom Idil, kuncen makam Uyut Pamegeut dan Uyut Istri, melakukan kontak batin dengan karuhun di makam keramat. Permohonan masyarakat itu pun, dikabulkan. Mereka diizinkan mendirikan rumah dengan arsitektur umum kecuali bumi adat yang harus tetap dijaga kelestariannya sampai kapanpun. ”Maka sampai sekarang, Bumi Adat masih tetap utuh seperti dahulu. Sebab Bumi Adat dianggap merupakan "lulugu" (biang) atau rumah yang harus dipelihara dan dilestarikan,” ujar Ilin Dasyah.

Hingga saat ini, terdapat enam kuncen yang memelihara Bumi Adat, yaitu Ma Empuh, Ma Akung, Ua Idil (Anom Idil), Anom Rumya, Aki Emen, dan Anom Samsa.
Untuk menempati jabatan kuncen di Bumi Adat atau jabatan ketua adat kampung Cikondang, harus melewati mekanisme pengangkatan yang khas. Ada beberapa syarat untuk bisa diangkat menjadi kuncen Bumi Adat. Diantaranya yaitu harus memiliki ikatan darah atau masih keturunan leluhur Bumi Adat. la harus laki-laki dan dipilih berdasarkan wangsit.

Artinya anak seorang kuncen yang meninggal tidak secara otomatis dapat diangkat untuk menggantikan ayahnya. Dia layak dan patut diangkat menjadi kuncen jika telah menerima wangsit. Biasanya nominasi sang anak untuk menjadi kuncen akan sirna jika pola pikirnya tidak sesuai dengan hukum adat leluhurnya. Pergantian kuncen biasanya diawali dengan menghilangnya "cincin wulung" milik kuncen yang saat itu menjabat. Selanjutnya orang yang menemukan ”cincin wulung’ itu dipastikan menjadi ahli waris pengganti kuncen. Cincin wulung dapat dikatakan sebagai mahkota bagi para kuncen di Bumi Adat kampung Cikondang.

Kuncen yang telah terpilih, dalam kehidupan sehari-hari, diharuskan mengenakan pakaian adat Sunda, lengkap dengan iket (ikat kepala). Jabatan kuncen Bumi Adat mencakup pemangku adat, sesepuh masyarakat, dan pengantar bagi para peziarah.

Sistem Religi

Salah satu ciri khas warga Kampung Cikondang adalah pemeluk agama Islam. Namun dalam kehidupan sehari-hari, mereka masih mempercayai adanya roh-roh para leluhur. Hal ini dituangkan dalam kepercayaan mereka yang menganggap para leluhurnya ngauban (melindungi) mereka setiap saat. Leluhur itu pula yang dipercaya dapat menyelamatkan mereka dari berbagai persoalan, sekaligus dapat mencegah marabahaya yang setiap saat selalu mengancam.

Leluhur utama mereka yang sangat dipuja adalah Eyang Pameget dan Eyang Istri. Kedua eyang ini dipercaya masyarakat setempat sebagai salah satu wali yang bertugas menyebarkan agama Islam di kawasan Bandung Selatan. Dan di Kampung Cikondang-lah kedua leluhur mereka itu mengakhiri hidup dengan tidak meninggalkan jejak. Masyarakat setempat mempercayai bahwa kedua eyang ini moksa atau tilem.

Karena itulah, sebagai bentuk penghormatan kepada karuhunnya, masyarakat Kampung Cikondang selalu menggelar upacara adat semacam wuku taun. Selain itu, mereka pun sangat patuh dan setia mematuhi segala pantangan-pantangan (tabu) yang ditanamkan oleh para karuhun terdahulu. Upacara adat itu sendiri, pada hakekatnya merupakan komunikasi antara masyarakat dengan leluhurnya yang dianggap sangat berjasa kepada mereka. Dalam upacara itu warga menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada leluhurnya. (Baca juga “Wuku Taun Sebagai Ritual Agung”) ***


0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP