19 Juli 2009

Ajaran Suku Dayak Indramayu


Suku Dayak Indramayu tidak sama dengan suku Dayak yang ada di Kalimantan. Dayak Indramayu adalah komunitas sekelompok orang yang mencoba mencari jati dirinya melalui pendekatan dengan alam. Suku ini memang unik. Baik dari cara berpakaian maupun ibadah atau ritual yang dilakukan.

Nama lengkap komunitas ini adalah Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu. Masyarakat luas mengenalnya dengan nama Suku Dayak Indramayu. Meski memakai nama dan berpenampilan mirip Dayak, namun mereka sama sekali tak memiliki hubungan dengan suku Dayak di Kalimantan sana. Bahkan seluruh anggotanya yang lebih dari 400 jiwa ini adalah suku Jawa yang bermukim di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.

Secara filosofis, nama komunitas tersebut sebenarnya mengandung makna yang sangat dalam. Seperti diungkap pimpinannya Takmat Diningrat didampingi juru bicara Darman, nama Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu merupakan falsafah hidup yang luhur. Suku artinya kaki yang bermakna masing-masing individu mempunyai tujuan masing-masing. Kata Dayak berarti ngayak atau menyaring dari sekian banyak manusia atau mengadakan pilihan antara salah dan benar.

Sedangkan kata Hindu bukan berarti agama hindu, tetapi yang dimaksud adalah awal manusia sebelum lahir atau terlebih dulu berada dalam kandungan ibu. Budha artinya dalam bahasa Jawa wuda, yang berarti telanjang. Sementara Bumi Segandu bermakna, dasar sebagai puser bumi dan Indramayu bermakna darma wong tuwa (darma orang tua) yang merupakan awal tetapi tidak diketahui awal dan asalnya.

Laku Pepe dan Kungkum

Komunitas Suku Dayak Indramayu menjalankan ritual menyembah sang pencipta dan penguasa alam semesta dengan 2 cara, yaitu laku pepe dan laku kungkum. Laku Pepe adalah melakukan ritual dengan cara menjemur diri dibawah terik sinar matahari. Sedangkan laku kungkum pelaksanaan ritual dengan cara berendam di dalam air (sampai sebatas leher). Ritual ini dilakukan di dalam parit dekat padepokan mereka pada pukul 24.00 hingga pukul 06.00. Saat pelaksanaan ritual mereka juga menyanyikan kidung pujian seperti sebuah doa dalam bahasa jawa, yang dalam bahasa jawa sering disebut uro-uro.

Uniknya, dalam kehidupan keseharian, cara berpakaian mereka hanya mengenakan celana sebatas lutut dan tanpa baju. Menurut mereka, kebiasaan bertelanjang dada dimaksudkan agar dapat merasakan sengatan matahari dan dinginnya malam, serta bisa terus menginjak bumi, sebagai bagian keharusan untuk menyatu dengan alam.

Keunikan lainnya, komunitas tersebut tidak menyantap telur atau makanan yang berasal dari hewan. Mereka adalah vegetarian. Dalam prinsip mereka, hewan juga butuh untuk hidup. Kebanyakan anggota komunitas tersebut memiliki mata pencaharian sebagai petani dan buruh.

Dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari, mereka pantang atau sangat dilarang melakukan hal-hal dan perbuatan yang bisa merugikan orang lain, seperti melanggar hukum dan menyakiti orang. Ajaran tersebut selama ini mereka terapkan dan dilaksanakan dengan tulus. Menurut pengakuan masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan komunitas tersebut, mereka tidak pernah merasa terganggu atau resah dengan aktivitas dan ritual yang mereka laksanakan selama ini. Bahkan komunitas tersebut tetap bermasyarakat dengan baik di desa tersebut.

Hanya saja, anggota komunitas tersebut tidak memiliki KTP. Alasannya mereka tidak bisa membuat KTP karena pada pengisian form agama harus di isi, sedangkan mereka adalah penganut kepercayaan. Alasan lain adalah, untuk membuat KTP mereka harus membuat pas foto dan mengharuskan mereka mengenakan pakaian. ***



0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP